Berita Utama

Penulis Buku The World Is Flat Bertemu dengan Presiden SBY

Presiden SBY menerima Thomas L.Friedman, di Kantor Kepresidenan, Selasa (25/3) sore. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menerima Thomas L.Friedman, di Kantor Kepresidenan, Selasa (25/3) sore. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Thomas L.Friedman, pengarang buku The World is Flat dan The Lexus and The Olive Tree, hari Selasa (25/3) sore bertemu dan berdiskusi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhodono serta para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, di Kantor Kepresidenan. Thomas L.Friedman dalam rangka penulisan buku berikutnya mengenai perubahan iklim.

Jubir Presiden, Dino Patti Djalal kepada wartawan mengatakan, “Presiden baru saja bertemu dengan Thomas Friedman. Pertemuan ini hanya bersifat perkenalan, meskipun ada satu hal yang menarik dan penting untuk dicatat, bahwa Thomas Friedman sedang menulis buku selanjutnya yang berjudul Green Is the New Red, White, and Blue: American's Mission in a World That Is Hot, Flat, and Crowded.

Dalam buku barunya ini, kata Dino, Friedman menggambarkan bumi atau dunia yang baru itu bukan hanya panas (hot ) tapi juga flat atau datar dan juga padat atau crowded. “Dan yang menarik jika pada buku sebelumnya - The World is Flat- Friedman menyoroti India dan China sebagai fenomena global yang baru, dalam buku selanjutnya ini Friedman akan fokus pada Indonesia. Karena dalam persilangan antara globalisasi dan politik ekonomi perubahan iklim, Indonesia merupakan suatu negara yang mempunyai peran penting. Bahkan Friedman mengatakan bahwa Indonesia bisa menjadi model bagi negara-negara lain, khususnya bagaimana membangun suatu kerjasama yang bertumbuh dari bawah ke atas yang meliputi bisnis dan civil society atau masyarakat lokal, juga dengan pemerintah lokal. Dan ini yang dilihat Friedman sewaktu dia mengunjungi Sumatera Utara, dia baru kembali dari Sumatera Utara dan beberapa tempat lainnya hari ini, ” jelas Dino.

“Saya tidak tahu nanti kesimpulan bukunya apa, isinya apa, tapi sangat menarik bahwa dia memandang Indonesia mempunyai peranan penting dalam dunia yang sedang berubah, dimana globalisasi dan politik perubahan iklim semakin berputar dan bersinergi. Friedman berharap Indonesia dapat memanfaatkan peran dan aset kita sebagai negara yang mempunyai sumber alam yang sangat luas, dan mempunyai aset hutan yang merupakan carbon SIG dunia yang mudah-mudahan dapat terus diolah dengan baik,” jelas Dino lagi.

Presiden, kata Dino, memberikan apresiasinya, dan mengatakan sangat antisipasi membaca buku ini, karena bila memang sekarang politiknya adalah politik perubahan iklim, kita berada di garis terdepan. “Karena seperti yang Presiden katakan, sekarang tidak ada mesin buatan manusia yang dapat menyerap emisi gas kaca. Yang ada hanya tanaman dan pohon, dan kita mempunyai sebagian hutan hujan tropis yang bisa menyerap itu. Karena itu kita memiliki peranan yang sangat sentral. Dan Presiden juga menceritakan bagaimana beliau dengan susah payah menggalang koalisi negara-negara yang punya hutan hujan tropis di New York bulan September lalu, Presiden mengadakan pertemuan Forestry 11, negara-negara yang mempunyai hutan di Asia Afrika dan Amerka Latin. Dan mereka mencapai suatu konsensus untuk menjadi bagian dari solusi. Dan Presiden juga menceritakan bagaimana Bali Road Map itu dicapai. Presiden juga bercerita bagaimana sekarang pentingnya carbon pricing yang adil bagi negara-negara berkembang,” kata Dino.

Dalam pertemuan tersebut Presiden didampingi Menko Polhukam Widodo A.S, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menko Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi, dan kedua Jubir Presiden, Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. (nnf)