Berita Utama

Presiden:

Krisis Energi dan Pangan Memukul Banyak Negara

Presiden SBY memberi keterangan pers soal krisis energi dan pangan dunia, di Kantor Presiden, Kamis (27/3) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY memberi keterangan pers soal krisis energi dan pangan dunia, di Kantor Presiden, Kamis (27/3) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Dunia sedang menghadapi isu yang tidak kalah kritisnya dibanding perubahan iklim, yaitu kenaikan harga minyak yang sangat luar biasa dan harga pangan yang melonjak tinggi. “Ini memukul perekonomi banyak negara, merepotkan budjet atau APBN dan segi-segi yang lain yang dipicu oleh kenaikan harga minyak ini, serta krisis energi,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan persnya di Kantor Presiden, Kamis (27/3) siang.

Sebuah studi mengatakan, lanjut Presiden, hanya dalam beberapa bulan harga pangan dunia melambung 40 persen. Belum lagi munculnya fenomena ketiga, yaitu gejolak keuangan global yang tampaknya belum berakhir. "Kita tidak tahu seberapa luas kerusakan atau dampaknya, dan siapa yang menjadi korban,” SBY menjelaskan kepada wartawan.

Presiden SBY menyerukan kepada semua pihak, kepada pemimipin dunia, bahwa Indonesia juga sangat serius menangani masalah ini. Tidak kalah seriusnya ketika Indonesia membahas masalah perubahan iklim. ”Pangan dan energi itu menyangkut kehidupan semua bangsa. Dengan harga pangan yang begini tinggi, harga minyak yang meroket, negara-negara yang belum berkembang, least develop countries, negara-negara berkembang, sangat terpukul dan itu akan menggangu Millenium Development Goal's, cita-cita kita dan cita-cita PBB untuk mengurangi kemiskinan sejagat dalam waktu 15 tahun sejak tahun 2000-2015 mendatang,” SBY menambahkan.

Karena itu Presiden SBY berharap agar PBB mengambil langkah-langkah proaktif, disamping meneruskan upaya untuk memperkuat kerjasama global menghadapi climate change. "PBB juga harus betul-betul menggalang kesadaran, tanggung jawab, dan kerjasama global, serta betul-betul dapat mengelola ekonomi dunia dan ekonomi semua negara akibat kenaikan harga minyak dan harga pangan ini,” lanjutnya.

Menurut Presiden SBY, penyebab melonjaknya harga minyak dan pangan ini adalah ketidakseimbangan antara supply dengan demand, produksi dengan konsumsi. Para produsen dan konsumen besar dunia juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Harus ada kerjasama semua pihak. "Dengan demikian akan terjadi stabilisasi pasar yang realistik dan tidak harus menimbulkan resesi ekonomi dunia yang akhirnya memukul ekonomi banyak negara,” SBY menegaskan.

Kalau kondisi ini dibiarkan terus akan banyak umat manusia dan negar yang menanggung penderitaan. Ini tidak adil, kata Presiden SBY. ”Saya sedang mempersiapkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, Tuan Ban Ki-moon tentang pikiran-pikiran ini dengan harapan PBB mengambil prakarsa untuk betul-betul melakukan langkah-langkah yang tepat,” Presiden menandaskan.

Ketika Presiden SBY berkunjung ke Timur Tengah dan Afrika Selatan kemarin, beberapa kepala negara dan kepala pemerintahan juga mengeluhkan soal kenaikan harga minyak dan pangan ini. ”Karena hal itu sudah menjadi permasalahan bersama, saya kira tidak tepat kalau ini kita biarkan. Ini yang perlu saya sampaikan kepada saudara-saudara dan besar harapan saya selaku Presiden Indonesia agar ada satu respon yang positif baik dari PBB ataupun pihak-pihak lain terhadap masalah ini,” ujar SBY, yang dalam keterangan persnya didampingi Juru Bicara Kepresidenan, Andi A. Mallarangeng dan Dino Patti Jalal.

Pemerintah, lanjut Presiden, terus berupaya melakukan langkah-langkah untuk mengatasi hal ini. ”Agar ekonomi kita tetap tumbuh, tetap selamat dan bisa mengringankan beban rakyat kita. Sekuat tenaga, semaksimal mungkin,” ujar SBY mengakhiri keterangan persnya. (osa)