Berita Utama

Presiden pada Pembukaan Rapimnas Kadin

Saya Akan Terus Melaksanakan Reformasi Birokrasi

Presiden SBY saat menyampaikan sambutan pembukaan Rapimnas Kadin, di Jakarta Convention Center, Senin (31/3) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY saat menyampaikan sambutan pembukaan Rapimnas Kadin, di Jakarta Convention Center, Senin (31/3) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertekad mengubah krisis akibat harga minyak dan pangan dunia yang melonjak menjadi tantangan (opportunity). Untuk itu Presiden mengajak dunia usaha menjadi pejuang ekonomi, turut membangun ekonomi Indonesia menjadi lebih kuat. Presiden menegaskan hal ini dalam bagian lain sambutannya pada pembukaan Rapimnas Kadin, di Jakarta Convention Center, Senin (31/3) siang.

“Saya akan terus melaksanakan reformasi birokrasi. Saya tidak pernah berhenti, saudara mungkin sudah mendengar omongan saya kesekian puluh kalinya. Kepada jajaran saya, janganlah mempersulit sesuatu yang sesungguhnya mudah dikerjakan. Awasi saya, awasi menteri saya, awasi gubernur saya, awasi bupati, walikota, dan jajaran pemerintahan untuk memiliki semangat yang sama,” kata Presiden SBY yang disambut aplaus panjang dari seluruh undangan yang memenuhi ruangan.

Presiden SBY meminta kepada seluruh menterinya untuk terus mengembangkan kebijakan yang bisa lebih kondusif terhadap peran dunia usaha untuk membangun infrastruktur ini. ”Setelah kebijakannya bagus, saya minta swasta betul-betul menjalankannya,” ujar Presiden.

Kepada dunia usaha, Presiden SBY juga meminta hal sama. Presiden kemudian bercerita, ada pengusaha meminta ijin untuk membangun jalan tol. Setelah ijin diberikan, ternyata pembangunan jalan tol tersebut macet. “Saya minta sekali lagi, jangan ada dusta diantara kita. Pemerintah kurang bagus saya akan bikin bagus, allout, segala tenaga. Harapan saya teman dunia usaha juga begitu, melakukan langkah imbangan yang sama,” SBY berpesan.

Pada kesempatan itu, Presiden juga menyinggung soal masih lambatnya upaya meningkatkan kebutuhan energi listrik. Soal Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang masih terus merugi dan birkorasi yang berbelit. “Jangan dibikin susah. Kalau bisa lebih cepat, lebih mudah, lakukan. Mari kita hitung-hitungan, berapa dibutuhkan listrik ini. Power plant mana yang kita bangun, panas bumi, dan lain-lain. Silakan,” kata Presiden SBY. (win)