Berita Utama

Presiden Buka Mubes Kosgoro 1957

Kemiskinan Tak Bisa Diatasi dengan Memasang Iklan dan Poster

Presiden SBY, Wapres JK dan Ketua Umum Kosgoro 1957 pada acara Musyawarah Besar Kosgoro di JCC, Kamis (3/4) malam. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY, Wapres JK dan Ketua Umum Kosgoro 1957 pada acara Musyawarah Besar Kosgoro di JCC, Kamis (3/4) malam. (foto: anung/presidensby.info)
Jakarta: Kemiskinan tidak bisa diatasi dengan memasang iklan. Juga tidak bisa dengan seminar dan menebarkan poster. Tetapi kemiskinan hanya bisa diatasi dengan kerja nyata seluruh komponen bangsa, pemerintah, dunia usaha, masyarakat luas, pemerintah pusat dan pemerintah daerah. "Saya mengucapkan terima kasih dan saya bangga karena Kosgoro ikut langsung untuk mengurangi kemiskinan itu." Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan peserta Musyawarah Besar II Kosgoro 1957, di Jakarta Covention Centre, Kamis (3/4) malam.

Presiden kemudian menjelaskan apa yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi masalah krisis global yang mengimbas pada perekonomian dalam negeri. "Pertama APBN harus kita sesuaikan, harus dilakukan penghematan pada pos-pos pengeluaran yang harus dihemat. Harus pula dilakukan langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi subsidi, mengurangi volume bahan bakar minyak dan penggunaan listrik. Ini yang sedang kita bicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Kami bersatu padu untuk mengelola APBN ini agar betul-betul bisa melaksanakan pembangunan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya," jelas SBY.

Menyangkut inflasi pangan, kata Presiden, pemerintah melakukan kebijakan stabilisasi harga, dengan instrumen fiskal dan non fiskal. "Ini memerlukan kebersamaan dengan dunia usaha, dengan para produsen pangan, eksportir dan importir pangan, dan juga masyarakat di seluruh tanah air, termasuk pemimpin daerah, gubernur, bupati, dan walikota. Mari langkah-langkah untuk stabilisasi harga pangan kita sukseskan. Tidak cukup dengan stabilisasi pangan, karena pada akhirnya kita menyadari produksi pangan harus ditingkatkan," kata Presiden.

"Terimakasih sekali lagi kepada Kosgoro yang telah melakukan kerjasama dengan perbankan, swasta, dan pihak lain yang tujuannya untuk meningkatkan produksi jagung, kedelai, dan komoditas lainnya. Mudah-mudahan organisasi massa lain mencontoh Kosgoro dalam kegiatannya itu," lanjut Presiden.

"Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, meskipun kita berkompetisi dalam ajang demokrasi nanti, marilah terus kita pelihara stabilitas dan keamanan publik, agar menjadi contoh negara demokrasi nomor tiga terbesar di dunia bisa menjalankan demokrasinya dengan tertib dan aman. Kalau itu bisa kita lakukan maka itu akan menjadi model di dunia yang barangkali belum terbayangkan negara Indonesia bisa melaksanakan demokrasi dengan baik, fair dan tertib serta aman," kata Presiden.

"Saya mengajak Kosgoro untuk membangun kultur berpolitik yang baik. Bukan politik yang menghalalkan segala cara, yang tidak peduli dampaknya pada kehidupan kita. Mari matang berdemokrasi. Kebebasan kita gunakan dengan menggunakan akhlak disertai amanah. Demokrasi yang membawa manfaat, demokrasi dalam ketertiban yang baik, yang tidak meninggalkan kerukunan dan persaudaraan diantara kita,"ajak Presiden.

Musyawarah Besar II Kosgoro 1957 mengambil tema memperkokoh semangat kebangsaan, berlangsung di JCC pada tanggal 3-6 April 2008, dan dibuka secara resmi oleh Presiden SBY usai menyampaikan sambutannya. Hadir pula Wapres Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Golkar, Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 Agung Laksono, Ketua Dewan Pembina Golkar Surya Paloh, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkopolhukam Widodo A.S, Kepala Bappenas Paskah Suzetta, dan beberapa duta besar negara sahabat, serta Ketua Panitia Setya Novanto.

Pada acara pembukaan Musyawarah Besar II Kosgoro 1957 itu juga dilakukan penandatanganan MoU kerjasama antara pengusaha Kosgoro 1957 dengan petani oleh BRI dan BNI, dan penyerahan piagam penghargaan secara simbolis kepada 10 orang kader Kosgoro 1957 yang menjadi kepala daerah, oleh ketua umum PPK Kosgoro 1957 diantaranya Gubernur DKI Fauzi Bowo, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, dan Gubernur Kepri Ismet Abdullah.

Acara ditutup dengan lantunan lagu ciptaan Presiden SBY, Rinduku Untukmu oleh Dharma Oratmangun dan Tantowi Yahya, serta Kawan oleh Kerispatih. (nnf)