Berita Utama
Jumat, 4 April 2008, 14:46:01 WIB
Santap Siang dengan Kalangan Perbankan
Presiden Minta Dukungan untuk Peningkatan Pangan dan Energi
Presiden SBY hari Jumat (4/4) bertemu para tokoh perbankan, di Istana Merdeka. (foto: abror/presidensby.info)
Menurut Presiden SBY, untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan diperlukan satu upaya besar di bidang bisnis ekonomi, teknologi, research dan development. Karena itu, Presiden meminta dunia usaha dan perbankan tidak usah saling menunggu. “Ini nyata. Tanahnya tanah kita sendiri. Tidak kecil, dua juta kilometer persegi, dengan SDM yang tersedia, dan ini diperlukan betul, dengan tujuan yang nyata. Saya kira dari hitungan apapun dengan best practice tentu akan membawa manfaat besar bagi perbankan dan bagi ekonomi kita,” kata Presiden SBY.
Untuk masalah listrik, Presiden SBY mengingatkan kembali program 25 ribu megawatt. “Itupun belum cukup. Saya sudah mengundang banyak investasi, baik dari dalam dan luar negeri, untuk membangun power plant. Saya minta dukungan dan kerjasama dengan perbankan,” ujar SBY. Presiden juga meminta komunitas perbankan menjalankan misi bersama ini.
Masalah stabilitas makro ekonomi yang sudah bagus, Presiden meminta hal ini tetap dijaga. “Saya ingin Pak Burhanuddin, saya tidak tahu barangkali Pak Boediono nanti yang melanjutkan --jika Dewan setuju. Bukan hanya agar ada stabilitas moneter yang baik, sehat, apakah itu menyangkut nilai tukar, inflasi, suku bunga, dan sejumlah policy, tapi kita juga harapkan supervisi terhadap apa yang dilakukan dunia perbankan bisa dilakukan dengan baik, dengan best practices yang dijalankan. Insya Allah akan terus kita pelihara pergerakan sekor riil yang telah menguat, termasuk kebangkitan atau perbaikan makro ekonomi kita yang makin bagus,” Presiden SBY menjelaskan.
Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah melaporkan respon dunia perbankan terhadap perkembangan yang ada. Respon ini perlu diambil, ujar Burhanuddin, untuk memitigasi meluasnya gejolak global saat ini. “Dan kita ingin meningkatkan daya tahan sekor keuangan, khususnya perbankan, karena perbankan merupakan bagian terbesar dari sektor keuangan kita --masih sekitar 80 persen dari sektor keuangan kita,” kata Burhanuddin.
Soal kondisi likuiditas perbankan selama triwulan I, lanjut Burhanuddin, cukup terjaga. Risiko kredit kecenderungannya menurun, misalnya kredit macet (Non Performing Loan) secara gross turun dari 4,82 persen menjadi 4,78 persen. Sementara secara netto masih sekitar 2 persen. Cukup rendah. Risiko perbankan yang dihadapi pasar saat ini masih cukup terjaga, didukung oleh posisi devisa netto perbankan yang rendah, yaitu sebesar 3,49 persen. Profil maturitas perbankan berjangka pendek dan panjang, serta SUN trading, relatif rendah yaitu sekitar 9 persen dari total aset perbankan.
Burhanuddin menilai semangat dunia perbankan untuk meningkatkan kredit tahun 2008 ini masih cukup tinggi. Suku bunga kredit sejak beberapa waktu yang lalu mengalami penurunan dan masih berdampak positif pada intermediasi perbankan. Loan to deposit ratio sudah mencapai 70 persen. Kenaikan kredit terbesar pada triwulan I terjadi pada kredit modal kerja, diikuti dengan kredit konsumsi dengan angka masing-masing Rp 9,1 triliun dan Rp 5,5 triliun. “Berdasarkan sektor ekonomi, kredit kepada sektor industri pengolahan mengalami kenaikan terbesar, yaitu Rp 6,4 triliun atau sekitar 42 persen dari total kenaikan,” jelasa Burhanuddin.
Menko Perekonomian Boediono pada sambutannya menyampaikan bahwa saat ini sedang disusun suatu protokol untuk menghadapi situasi yang abnormal. Hal ini penting dan akan diwadahi untuk menjadi undang-undang. “Sehingga para pejabat tidak gamang dalam mengambil keputusan. Sangat baik untuk masing-masing tahu apa yang dilakukan. Krisis bisa datang setiap saat, ini kita dahulukan dalam prioritas pekerjaan bersama antara bank Indonesia dan pemerintah,” kata Boediono.
Acara santap siang juga dihadiri oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Ketua Perbanas Sigit Pramono, dan para pimpinan bank, baik pemerintah maupun swasta, di Indonesia. (nnf)



