Berita Utama

Menghadapi Situasi Krisis Global

Pemerintah Tidak Tinggal Diam

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta seluruh jajaran pemerintahan agar betul-betul memahami perkembangan lingkungan strategis global, regional, dan nasional, agar bisa melakukan langkah-langkah yang tepat dan efektif. “Saya yakin kita semua mengikuti perkembangan situasi pada bulan-bulan terkahir ini yang dapat kita simpulkan mulai terjadi slow down," kata Presiden pada Sidang Kabinet Paripurna di Gedung Sekretariat Negara, Senin (7/4) siang.

"Terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara dipicu oleh tiga isu kritis, yakni minyak, pangan, dan gejolak keuangan global,” Presiden SBY menjelaskan. Pengaruh krisis ekonomi dunia ini dirasakan oleh semua negara. Dampak bagi Indonesia, ada lima hal. Pertama, kenaikan harga pangan, minyak, ada persoalan menyangkut APBN, dan tantangan baru terhadap ekspor dan investasi mengingat pasar tidak selalu terbuka lebar untuk produk Indonesia. "Tak kalah pentingnya muncul protes sosial, yang saat ini mulai kita rasakan terjadi di banyak negara juga,” Presiden SBY menambahkan.

Kita, lanjut Presiden, tentu tidak berdiam diri. Pemerintah telah mengantisipasi dengan mengambil langkah-langkah proaktif dan bahkan telah melakukan kebijakan dan tindakan untuk menghadapi inflasi harga pangan yang cukup tinggi. "Ada ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Oleh karena itu, solusi yang kita pilih, kebijakan yang kita kembangkan menyangkut permasalahan pangan ini, mulai sekarang kita lebih lagi meningkatkan produksi dan sekaligus dengan serangkaian kebijakan stabilisasi harga pangan,” ujar Presiden SBY.

Mengenai persoalan energi, pemerintah ingin meningkatkan produksi dalam negeri melalukan diversifikasi sumber-sumber energi. Tak kalah pentingnya, melakukan penghematan energi secara nasional untuk menghadapi persoalan yang berkaitan dengan APBN agar tetap sustainable dan credible. (win)