Berita Utama

Santap Siang Bersama Tokoh Perempuan

SBY: Mari Bangun Budaya Hemat

Presiden SBy ketika memberi sambutan acara santap siang bersama tokoh dan aktivis perempuan di Istana Merdeka, Jumat (18/4) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBy ketika memberi sambutan acara santap siang bersama tokoh dan aktivis perempuan di Istana Merdeka, Jumat (18/4) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki agenda rutin baru setiap Jumat siang, yaitu makan siang bersama berbagai kelompok masyarakat dan profesi. Setelah pekan-pekan sebelumnya Presiden SBY santap siang dengan anggota DPD, para pimpinan perbankan dan para pengusaha bidang pertanian, Jumat (18/4) siang ini di Istana Merdeka, SBY mengundang santap siang bersama para tokoh perempuan.

Didampingi Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dan para menteri koordinator beserta istri, serta menteri-menteri perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu, Presiden menyampaikan berbagai hal mengenai isu-isu yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam hari-hari belakangan ini. Seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan hemat energi.

"Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan atas apa yang telah dikontribusikan oleh ibu-ibu sekalian dengan mengembangkan sektor kehidupan," kata Presiden. SBY mengajak mereka untuk bersikap optimis dan positif dan melaksanakan apa saja yang bisa dilakukan untuk bisa maju.

"Karakter perempuan yang pertama adalah budaya menanam, yang membawa manfaat bagi anak cucu, keluarga dan masyarakat. Itu harus disukseskan gerakan kaum perempuan untuk menanam, dan menghijaukan serta melestarikan lingkungan. Saya harap ini bisa dipertahankan dan dikembangkan," ajak Presiden.

Kedua, lanjut Presiden, adalah budaya hemat. "Jarang sekali ibu-ibu yang boros. Saya mencatat budaya hemat, bukan pelit, itu adalah salah satu karakter ibu-ibu. Saya titip kalau kita punya persoalan dengan energi BBM, listrik, dan gas, seringkali bangsa kita tidak hemat energi. Ini merupakan kesusahan global, dan saya ingin kreativitas ibu-ibu untuk mari pelopori membangun budaya hemat," SBY menambahkan.

Ketiga, budaya ubet (bahasa Jawa). Artinya, kreatif dan ulet dalam mencari solusi, tidak mudah menyerah. Presiden mengajak untuk ke depan bersama-sama dengan pemerintah mengelola dan mengatasi isu-isu fundamental terkait dengan climate change, ketahanan pangan, keamanan energi, suksesnya pemberdayaan masyarakat lokal, peluncuran program PNPM Mandiri dengan harapan komunitas lokal bisa mandiri menjadi self developing community.

Hadir pada acara tersebut, anatara lain, aktivis perempuan Gadis Arivia, peneliti LIPI Dewi Fortuna Anwar, seniman perempuan Mira Lesmana, Wakil Sekjen Granat Lula Kamal, Ketua Wanita Kosgoro Lenny Marlina, Komnas Perempuan Kemala Chandra Kirana, Juara Olimpiade Matematika SMA Stephanie Senna, Presiden Direktur Duta Bangsa Mien Uno, Ketua Dharma Wanita Persatuan Nila F.Moeloek, dan Ketua Aisyiah Prof.Dr. Siti Chamamah Soeratno. (nnf)