Berita Utama

Penjelasan SBY Tentang Pernyataan Ramos Horta

"Saya Terkejut, Karena Pernyataan Itu Belum Tepat Disampaikan ke Publik"

Presiden SBY hari Jumat (18/4) petang di Kantor Kepresidenan memberi penjelasan mengenai pernyataan Presiden Timor Leste, Ramos Horta. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY hari Jumat (18/4) petang di Kantor Kepresidenan memberi penjelasan mengenai pernyataan Presiden Timor Leste, Ramos Horta. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hari Jumat (18/4) petang menanggapi berbagai pemberitaan media massa yang memuat pernyatakan Presiden Timor Leste, Ramos Horta, di Dili, yang berkaitan dengan peristiwa penembakan dirinya dan PM Timor Leste, Xanana Gusmao.

"Dalam pernyataan Horta, dikatakan bahwa ada unsur luar, dan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang ada di Australia dan Indonesia, yang diduga terlibat dalam peristiwa penembakan yang terjadi pada tanggal 11 Februari 2008 yang lalu. Dalam pembicaraan melalui telepon antara saya dengan Presiden Ramos Horta pada tanggal 10 April lalu, dibahas mengenai hasil investigasi yang sedang berlangsung untuk mengusut kasus penembakan yang terjadi," kata Presiden.

"Ada sejumlah informasi yang mengait kepada percakapan telepon antara Renaldo dan pihak-pihak yang ada di Indonesia. Yang kemudian saya tahu, bahwa pihak-pihak itu bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Australia dan di negara-negara lainnya. Pada saat itu juga Presiden Ramos Horta meminta bantuan dan kerja sama dengan pihak Indonesia untuk menindak lanjuti informasi investigasi tersebut, agar siapapun yang terlibat di dalam usaha pembunuhan Xanana Gusmao dan Ramos Horta dapat ditemukan dan diproses menurut hukum yang berlaku," jelas SBY.

"Karena hal ini adalah masalah yang serius, maka pemerintah Indonesia langsung mengambil langkah-langkah proaktif. Saya segera instruksikan kepada Kapolri Jenedral Sutanto untuk dengan cepat melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk bekerja sama dengan pihak Timor Leste. Selang beberapa hari, pada tanggal 13 dan 15 April 2008, pemerintah Indonesia mengirimkan 2 pejabat senior Kepolisian Republik Indonesia ke Dili untuk bertemu dengan Jaksa Agung Timor Leste. Pihak Timor Leste kemudian meminta kepada pihak kepolisian Indonesia untuk membantu mencari dan menangkap yang diduga kuat terlibat di dalam peristiwa penembakan tersebut. Polri melakukan tindakan yang cepat dan profesional untuk mengetahui siapa yang terlibat dalam peristiwa itu," kata Presiden SBY.

"Dengan tindakan lanjut yang cepat yang dilakukan oleh pihak kepolisian Indonesia, pada tanggal 18 April 2008, Polri berhasil menangkap dan menahan tiga warga negara Timor Leste yang terlibat di dalam kasus penembakan tersebut. Mereka adalah Egidio Lay Carbalho, Jose Gomes dan Ismail Sansao Moniz Soares. Ketiga-tiganya adalah oknum tentara Timor Leste, bukan warga negara Indonesia, sebagaimana yang dibicarakan. Saat ini saya belum bisa memberikan penjelasan lebih luas. Kepolisian akan memberikan penjelasan lagi setelah menuntaskan tugasnya. Operasi dan interogasi terus dilanjutkan dengan kerjasama yang baik dengan pihak Timor Leste. Saya mengucapkan terima kasih, karena dengan semangat kerja sama yang tinggi telah berhasil meringkus yang diduga terlibat dalam peristiwa penembakan itu," kata SBY.

"Oleh karena itu saya terkejut ketika mendengar pernyataan Presiden Ramos Horta. Pembicaraan itu belum tepat disampaikan kepada publik mengenai pencarian siapa yang terlibat di dalam kasus penembakan tersebut. Saya beritahukan kepada para menteri dan seluruh pihak terkait, untuk tidak mempublikasikan masalah ini dengan tujuan agar pencarian dapat berlangsung dengan efektif," papar SBY.

"Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia ingin mempertahankan hubungan baik kedua negara. Saya juga siap menyambut kedatangan Perdana Menteri Xanana Gusmao. Saya sangat berharap kepada leadership di Timor Leste untuk tidak mengeluarkan statement yang bisa mengakibatkan salah interpretasi, seolah-olah ada keterlibatan pihak Indonesia di dalam peristiwa itu. Statement ini akan mengganggu hubungan bilateral yang sekarang ini dalam keadaan yang baik," tegas Presiden SBY mengakhiri konferensi persnya. (mit)