Berita Utama

Presiden di Batu Licin, Kalsel:

Kita Bisa Ikut Atasi Krisis Pangan Dunia

Presiden SBY disambut jamaah pada  peresmian Masjid Darul Azhar, di Batu Licin Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel, hari Kamis (24/4) malam. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY disambut jamaah pada peresmian Masjid Darul Azhar, di Batu Licin Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel, hari Kamis (24/4) malam. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan produksi pangan dalam negeri sebagai salah satu solusi mengatasi krisis pangan dunia yang terjadi saat ini. Demikian dikatakan Presiden hari Kamis (24/4) malam, saat meresmikan Masjid Darul Azhar Nurussalam di Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu , Kalimantan Selatan.

"Apa bisa kita ikut mengatasi krisis pangan dunia? Insya Allah bisa. Beras, beberapa tahun yang lalu jumlahnya berkurang sehingga kta mengimpor dengan jumlah cukup lumayan. Tetapi tahun-tahun terakhir impor sudah kita kurangi, dan Allhamdulilah dengan kerja keras kita semua, tahun lalu jumlahnya menjadi cukup, bahkan tahun ini jumlah beras kita bisa berlebih sehingga kita bisa mengekspor. Tetapi mengingat keadaan seperti ini, lebih baik kalau ada kelebihan bisa kita gunakan sendiri," kata Presiden di hadapan 30 ribu umat muslim yang memenuhi masjid Darul Azhar.

"Kalau kita bisa meningkatkan produksi pangan, mestinya kita juga bisa menigkatkan produksi yang lain misalnya jagung, kedelai, gula, daging sapi dan lain-lain. Dengan cara itu masyarakat seluruh Indonesia di bawah kepemimpinan para pemimpin mulai dari saya, gubernur, bupati, walikota, camat hingga kepala desa, maka meskipun ada gonjang-ganjing dan krisis pangan di dunia, dengan ridha Allah dengan niat yang ikhlas bekerja keras, produksi pangan kita makin ke depan makin meningkat. Ini cara-cara yang cerdas, cara-cara islami, cara-cara yang benar dalam mengatasi gejolak pangan di dunia ini," kata Presiden.

Mengenai krisis energi dunia, kata Presiden, pemerintah telah mensubsidi harga minyak bagi masyarakat, dan masih banyak lagi subsidi yang lain. "Namun akibat kenaikan harga minyak yang meroket, subsidi kita semakin membengkak . Oleh karena itu pemerintah berikthiar mencari akal dan mencari jalan agar jumlah pengeluaran bahan bakar minyak naik. Marilah kita bisa menjadi contoh hemat energi. Kalau kita bisa hemat semua secara nasional, maka penghematan juga bisa kita lakukan dalam jumlah yang besar. Kalau kita menjadi bangsa yang hemat energi, maka harga kenaikan bahan bakar minyak kita tidak perlu cemas. Apalagi kalau harga minyak dunia mulai turun , bangsa yang hemat tentunya bangsa yang beruntung dan penghematan itu bisa kita gunakan untuk kepentingan yang lain," kata Presiden. (win)