Berita Utama

Pembukaan Apconex 2008

SBY Ingatkan Perbankan untuk Hati-Hati Kalkulasi Risiko

Presiden SBY saat menyampaikan sambutan pembukaan Apconex 2008, di JCC, Rabu (7/5) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY saat menyampaikan sambutan pembukaan Apconex 2008, di JCC, Rabu (7/5) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan kalangan perbankan untuk bersikap hati-hati dalam mengkalkulasi risiko, untuk menghindari dampak krisis keuangan global. Presiden mengatakan hal ini dalam sambutan pembukaan The Asia Pacific Conference & Exhibition on Financial Transformation (Apconex) 2008, di Jakarta Convention Centre, Rabu (7/5) pagi.

”Saya ingin menyampaikan pandangan pikiran dan ajakan saya berkaitan dengan konferensi dan eksibisi ini lebih dari topik yang diangkat Toward Less Cash Society. Saya ingin meletakkan permasalahan keuangan dan perbankan ini saat ini dalam dimensi dan konteks yang lebih luas. Dengan demikian kita makin menyadari pentingnya sektor keuangan, pentingnya peran industri perbankan di dalam menggerakkan perekonomian nasional bahkan dalam upaya untuk menggalang kerjasama antar bangsa dalam era globalisasi yang tentu membawa tantangan-tantangannya tersendiri,” kata Presiden.

Presiden SBY mengajak dunia perbankan memetik pelajaran dari krisis keuangan global. Dalam kurun 10 tahun terakhir, dunia mengalami dua kali krisis keuangan. Pertama, tahun 1997-1998, yang kita kenal dengan Asia Fiancial Crisis. "Kedua, sekarang ini, meskipun seolah-olah yang mengalami krisis adalah Amerika Serikat tapi kita semua tahu pengaruh dan dampaknya juga dirasakan oleh negara-negara lain, bahkan juga berpengaruh pada pelambatan ekonomi global,” lanjut Presiden.

Kalau kita melihat kembali kedua krisis ini, maka 10 tahun lalu Indonesia mengalami dampak langsung yang buruk. Kita merasakan betapa susahnya ekonomi kita waku itu. "Krisis sekarang ini memang seolah-olah Indonesia tidak directly hit by the crisis yang dipicu oleh kredit macet perumahan di Amerika Serikat," SBY menjelaskan. Tetapi kalau kita kaitkan sekaligus dengan inflasi, ujar Presiden, minyak dan harga pangan yang menggila ini, Indonesia juga terkena dampak tidak langsung.

"Mengapa indirectly? Kalau ekonomi Amerika mengalami resesi dan Amerika Serikat adalah partner penting Indonesia di bidang ekspor dan investasi, sebagaimana Jepang dan negara-negara yang lain. Kalau ada resesi di negara itu tentu akan berkaitan dengan peluang ekspor kita, peluang investasi, dan peluang kerjasama bilateral lainnya dengan negara-negara yang mendapatkan dampak dari krisis keuangan itu,” Presiden SBY menambahkan.

Pelajaran yang dapat kita petik dari konteks ini adalah ekspansi 'yes', dari segi keuangan perbankan untuk menggerakkan roda perekonomian dan menggerakkan sektor riil. "Tapi risk calculation dan risk assesment yang tepat juga jangan ditinggalkan. Dan pelajaran yang kedua adalah diperlukannya, good corporate governance pada sisi pelaku, good governance pada sisi regulator. Inilah pelajaran berharga yang menurut saya mesti kita petik karena sekarang pun kita menghadapi another financial crisis dengan dimensi dan magnitude yang cukup besar,” Presiden SBY menegaskan. (nnf)