Berita Utama
Rabu, 21 Mei 2008, 12:05:15 WIB
Presiden:
Demonstrasi Wajar, Tapi Jangan Melebihi Batas Kepatutan
Presiden SBY, didampingi Menkeu Sri Mulyani, dalam keterangan pers soal maraknya demo, di Istana Merdeka, Rabu (21/5) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Sejak kita mengalami krisis 10 tahun lalu,tema unjuk rasa yang diangkat mahasiswa intinya sama seperti yang disampaikan oleh mahasiswa Unair, pekan lalu. Yakni, tujuh gugatan rakyat. Setelah mencermati satu persatu tuntutan tersebut, Presiden menyimpulkan apa yang disampaikan mahasiswa adalah mengingatkan agar reformasi ini terus dilanjutkan. "Saya setuju dengan substansi tujuh isu itu. Meskipun ada 1-2 yang mesti kita bicarakan secara gamblang karena memang data dan faktanya barangkali belum tentu sama. Tapi, jiwa idealisme mahasiswa untuk menyuarakan tujuh isu penting itu sebagai bagian dari reformasi yang belum rampung sangat saya pahami dan saya pun setuju. Bukan hanya pemerintah, tapi kita semua terus melakukan langkah-langkah reformasi itu,” kata Presiden.
Unjuk rasa yg bertemakan pangan dan energi, Presiden mengingatkan bahwa kita semua memahami duduk persoalan isu tersebut. Para elite, ekonom, dan politisi yang juga ikut melakukan protes dan aksi-aksi politik sebenarnya juga paham persoalan krisis pangan dan energi ini. Karena itu, Presiden mengingatkan bahwa mereka sesungguhnya menjadi bagian dari solusi.
"Saya berharap kita ini bisa menjadi bagian dari solusi. Protes, sekali lagi, wajar. Demonstrasi itu keniscayaan demokrasi. Tapi marilah kita bersama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa. Marilah sama-sama kita, ketika negara mengalami masalah, sebagaimana negara lain, jangan menimbulkan masalah-masalah baru yang melebihi batas kepatutan. Memang politik adalah politik dan saya tahu ini tahun politik, tahun depan tahun pemilu. Tapi mesti ada kontrol hati nurani, kontrol pikiran kita semua sehingga semua yang kita lakukan bermanfaat bagi rakyat. Jangan ditambah lagi penderitaan rakyat, karena diantara kita keluar dari apa yang sesungguhnya kita lakukan secara bersama,” Presiden menegaskan.
Presiden menegaskan, perlu dilakukan kerjasama global untuk mengatasi masalah energi dna pangan ini. Sebagaimana diketahui bahwa krisis ini juga dialami oleh banyak negara lain. “Kita tidak hanya mengandalkan kerjasama global dan tidak ingin terlalu menyalahkan dunia. Terus terang persoalan ini mengalir dari apa yang terjadi di dunia,tapi kita melakukan langkah-langkah kita sendiri. Kita mesti melakukan kebijakan, program, dan aksi-aksi nyata, mulai dengan stabilisasi harga, upaya utk meningkatkan produksi pangan dalam jangka menengah. Upaya penghematan energi secara nasional dan langkah-langkah untuk menyelamatkan perekonomian kita. Sambil membantu saudara-saudara kita yang paling mengalami beban akibat krisis energi dan pangan global ini,” Presiden menjelaskan.
”Itulah pandangan saya, sekali lagi mari kita mendudukkan masalah pada letaknya yang benar, yang berunjuk rasa apabila temanya tepat dengan idealisme yang tinggi bebas dari kepentingan kekuasaan pribadi sebagaimana yang disuarakan oleh mahasiswa sangat saya dengar dan itu menjadi bagian dari upaya kita untuk membenahi apa yang ada di negeri ini melanjutkan reformasi mencapai tujuan yang diharapkan,” kata Presiden menutup keterangannya.
Dalam keterangan pers ini, Presiden SBY didampingi oleh, antara lain, Mensesneg Hata Rajasa, Menlu Hassan Wirajuda, dan Menkeu Sri Mulyani, serta Jubir Presiden, Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal,. (nnf)



