Berita Utama

SBY Menerima Peserta Pertemuan Umat Beragama

Pemuka Agama Ikut Membangun Hari Esok yang Lebih Baik

Presiden SBY berbincang dengan para peserta Pertemuan Besar Umat Beragama Indonesia, di Istana Negara, Kamis (22/5) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY berbincang dengan para peserta Pertemuan Besar Umat Beragama Indonesia, di Istana Negara, Kamis (22/5) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima peserta Pertemuan Besar Umat Beragama Indonesia, di Istana Negara, Kamis (22/5) pagi. Kedatangan mereka untuk melaporkan hasil pertemuan, yang berlangsung sejak 20 Mei lalu dan ditutup siang ini.

Ketua Pelaksana pertemuan, Slamet Effendi Yusuf, dalam laporannya menerangkan bahwa dalam Pertemuan Besar Umat Beragama Indonesia, yang mengambil tema "Gerakan Moral Agama Untuk Menegaskan Ulang Komitmen Kebangsaan”, telah dihasilkan dua rekomendasi. “Pertama adalah rekomendasi bersama dari umat beragama Indonesia yang berisi program-program nyata untuk mengawali Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Slamet. “Kedua adalah rekomendasi untuk perdamaian dunia,” lanjutnya.

Sementara itu, Presiden SBY dalam pidato pengarahannya berpendapat, pertemuan besar semacam ini sangat penting karena terus memelihara silaturahmi dan komitmen yang kuat untuk bersama-sama berkontribusi bagi kehidupan bangsa dan negara. “Di banyak kesempatan saya sampaikan, jika di negeri tercinta ini seluruh penyelenggara negara menjalankan tugasnya dengan baik dan sungguh mencurahkan waktu dan tenaganya untuk rakyat, apabila para pemuka agama juga terus melakukan bimbingan kepada umat dan menunjukkan arah yang benar pada kehidupan yang religius untuk bersama-sama membangun hari esok yang lebih baik, jika masyarakat luas bisa berpartisipasi secara positif, insya Allah dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, perjalanan bangsa kita akan dapat menuju terwujudnya cita-cita para pendiri dan pejuang bangsa,” seru SBY

Presiden SBY juga mengajak untuk melakukan refleksi 100 tahun Kebangkitan Nasional, secara jernih, bersikap positif, dan optimistik. "Berangkat dari situ refleksi yang dilakukan tentu akan lebih tepat. Seratus tahun perjalanan negeri ini kita mencatat sejumlah tonggak sejarah. Seratus tahun ini pula kita melihat, yang saya sebut kontinuitas dan diskontinuitas. Ada kalanya kita mengalami goncangan dan krisis. Selama 100 tahun pasti ada perubahan, keberhasilan, dan kegagalan,” SBY menjelaskan.

”Ketika Indonesia mengalami krisis, banyak yang meramalkan negeri ini akan jatuh dan hanya tinggal nama. Namun hal itu tidak terjadi dan sampai hari ini masih tegak berdiri. Indonesia tidak jatuh karena dua hal. Pertama, karena pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, dan kedua karena kita tidak rela dan tidak mau negara kita bubar,” ujar SBY. Resepnya, lanjut SBY, mari untuk ke depan kita makin bersatu dan bekerja keras. "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” Presiden menambahkan.

Turut mendampingi Presiden SBY dalam acara ini, antara lain, Menko Polhukkam Widodo AS, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mendagri Mardiyanto, Menkominfo M.Nuh, dan Seskab Sudi Silalahi. (osa)