Berita Utama
Senin, 2 Juni 2008, 11:30:41 WIB
Kunjungan Deputi PM Malaysia
Bicarakan Penggabungan Bank Niaga dan Lippo, Krisis Energi dan Pangan
Presiden SBY hari Senin (2/6) pagi menerima Wakil Perdana Menteri Malaysia, Mohamad Najib Tun Haji Abdul Razak, di Kantor Presiden. (foto: anung/presidensby.info)
Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal usai mendampingi Presiden SBY menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa hal yang sifatnya substantif. Tiga agenda yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah penggabungan Bank Niaga dan Bank Lippo, krisis energi, dan krisis pangan. ”Presiden menyambut baik maksud kedatangan Dato Sri Mohammad Najib ke Indonesia untuk menghadiri penggabungan Bank Niaga dan Bank Lippo yang sekarang sedang dilaksanakan di Shangrila Hotel,” kata Dino.
”Ini merupakan perkembangan yang baik, yaitu lebih banyak ada investasi Malaysia di Indonesia. Penggabungan tersebut juga merupakan suatu hal yang ditetapkan pemerintah Indonesia melalui Single Person Policy (SPP), dimana satu pemegang saham tidak boleh menjadi pengendali lebih dari satu bank. Jadi dua bank ini yaitu Bank Niaga yang memiliki aset lebih kurang 5 trilyun dan Bank Lippo yang memiliki aset lebih kurang 3 trilyun dan dipegang CIMB Group dan juga Khazanah Holding pemilik Bank Lippo dipersatukan,” tambahnya.
Presiden SBY dan Deputy PM Najib juga membahas masalah subsidi minyak, karena Malysia juga mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia. “Jadi tadi Presiden SBY banyak menjelaskan mengenai apa yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan menurunkan subsidi dan juga mengenai skema-skema BLT untuk rakyat, mengaktifkan atau menggalakkan Kredit Usaha Rakyat dan bantuan-bantuan lainnya. Presiden menegaskan bahwa yang penting bukan hanya menurunkan subsidi BBM tetapi juga bagaimana menjamin agar ada jaminan keselamatan terhadap golongan rakyat miskin yang paling membutuhkan bantuan tersebut,” lanjutnya.
“Tetapi menarik sekali bahwa permasalahan yang dihadapi Malaysia sangat mirip dengan Indonesia. Tadi banyak sekali dibahas mengenai langkah-langkah yang sedang atau akan dilakukan kedua negara. Tentu saya tidak mempunyai wewenang untuk mengatakan apa yang akan dilakukan oleh Malaysia. Tetapi disebutkan Presiden SBY bahwa Indonesia sekarang sudah menjadi nett importer, kita tekor sekitar 100 ribu barrel per hari. Malaysia sekarang masih nett eksporter, juga sekitar 100 ribu barrel per hari, tapi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama kalau tidak ada penemuan baru mungkin pada tahun 2012 Malaysia juga akan menjadi nett importer. Sementara Indonesia berharap tahun 2009 akan menambah 200-300 ribu barrel sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama Indonesia dapat kembali menjadi negara nett ekporter atau paling tidak sama rata,” ujar Dino.
Untuk masalah krisis pangan, Presiden SBY mengutarakan keprihatianannya, meskipun Indonesia berada pada posisi beras yang mencukupi tetapi beliau mencatat di negara lain seperti Kamboja, Thailand, dan lain-lainnya kenaikan harga beras yang melonjak drastis memberikan peluang untuk mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial di Asia Tenggara. “Karena itulah Presiden SBY telah mengirim surat kepada PM Lee Hsien Loong sebagai ketua ASEAN Standing Committe yang pada intinya meminta agar ASEAN melakukan langkah atau pertemuan khusus untuk membahas mengenai hal ini,” tandas Dino. (osa)



