Berita Utama

Presiden SBY:

Gerakan Tanam Pohon Bukan Hanya pada Bulan Desember Saja

Presiden SBY  didampingi Meneg KLH Rachmat Witoelar berdialog dengan  para peraih penghargaan Kalpataru, pada  peringatan Hari Lingkungan Hidup hari Kamis (5/6) pagi di Istana Negara . (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY didampingi Meneg KLH Rachmat Witoelar berdialog dengan para peraih penghargaan Kalpataru, pada peringatan Hari Lingkungan Hidup hari Kamis (5/6) pagi di Istana Negara . (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak ingin berbicara panjang lebar tentang apa bahaya dari perubahan iklim dan dampaknya karena kita sudah merasakan semuanya. “Apa lagi yang kita tunggu? Saatnya kita bertindak untuk melakukan tindakan-tindakan nyata,” kata Presiden SBY dalam pidatonya saat menyerahkan penghargaan Kalpataru dan Adipura pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana Negara, Kamis (5/6) pagi.

Menurut Presiden SBY, ada empat hal besar yang harus segera dilakukan. ”Pertama, mari kita selamatkan hutan dan lahan kita. Teruskan gerakan menanam dan pelihara pohon. Mari kita lanjutkan untuk selamanya, bukan hanya setiap bulan Desember saja. Saya berpesan kepada Menteri Kehutanan dan menteri terkait lainnya, karena dunia sedang mengalami krisis energi dan pangan, dalam melakukan gerakan menanam dan memelihara pohon, tanam lagi kelapa, sukun, dan hutan bakau. Harga CPO tinggi sedangkan sukun bisa bikin air bersih dan rasanya jos,” ujar SBY disambut gelak tawa hadirin.

”Kedua, mari kita lakukan penghematan energi. Kalau kita tidak boros menggunakan bahan bakar maka karbondioksida tidak akan terus mencemari ruang udara kita, perubahan iklim dapat kita cegah, dan kehidupan kita selamat. Jika kita hemat energi maka ekonomi kita juga dapat kita selamatnya. Ketiga, mari kita bikin bersih dan lancar saluran-saluran air di Kabupaten dan Kota. Ini akan saya lihat di kota-kota penerima Adipura. Saluran air di jaga, jangan sampai anugerah Adpura dicabut kotanya mampet semua,” jelas SBY.

”Keempat adalah gerakan lingkungan bersih. Saudara harus percaya kalau kita melihat daerah kita bersih, rapi, dan teratur selama berpuluh-puluh tahun, hati dan jiwa kita akan bersih. Tidak mau melakukan penyimpangan-penyimpangan,” lanjutnya. ”Saatnya kita bertindak untuk menyelematkan bumi yang kita tinggali ini,” seru Presiden SBY.

Dalam kesempatan tersebut Presiden SBY juga mengingatkan empat faktor penting yang menjadi pedoman dan harus dijalankan. ”Pertama, kebijakan pemerintah pusat dan daerah harus tepat. Kedua, pendidikan. Lakukan pendidikan tentang lingkungan atau kurikulum berbasis lingkungan. Ketiga, perilaku dan gaya hidup masyarakat dibangun untuk sayang pada lingkungan. Keempat, kembangkan teknologi,” jelas SBY.

Nampak hadir dalam acara tersebut antara lain, Menteri Kehutanan M.S. Kaban, Seskab Sudi Silalahi, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Jamal, Menkominfo M. Nuh, dan mantan menteri lingkungan hidup Emil Salim. (osa)