Berita Utama
Senin, 9 Juni 2008, 11:33:59 WIB
SBY: Tidak Bermoral Bila Hanya Menghitung Untung Rugi untuk Saya
Jakarta: Sebagai pemimpin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mengambil risiko dari efek kenaikan harga BBM, termasuk penurunan popularitasnya. ”Bagi saya, lebih mulia dan lebih terhormat mengambil risiko dengan konsekuensi popularitas saya yang turun karena keputusan pahit ini, daripada saya tidak berbuat apa-apa supaya saya tetap populer,” tegas Presiden SBY dalam `Dialog Eksklusif` yang ditayangkan Metro TV, Minggu (8/6) malam.”Hal itu sudah saya pikirkan masak-masak. Tujuan saya adalah menyelamatkan ekonomi negeri kita ke depan. Bukan hanya soal APBN, tapi juga seluruhnya. Oleh karena itu justru tidak bermoral kalau saya hanya menghitung untung rugi untuk saya dan untuk politik saya maka saya tidak berani mengambil keputusan itu,” jelas SBY. ”Saya mengikuti pooling kemarin, segera setelah keputusan ini diambil. Popularitas saya menurun, saya terima hal itu. Wajar kalau itu terjadi. Kalau seberapa besar, kita lihat saja nanti dalam keberlanjutan politik di negeri ini. Tetapi selalu ada seperti itu, karena politik itu ya politik. Apapun bisa menjadi amunisi untuk diangkat dalam rangka struggle for power,” lanjutnya.
”Saya cermati, banyak sekali opini, serangan-serangan politik, kecaman, dan lain-lain. Kalau itu masih dalam bingkai politik kompetisi menuju 2009, saya harus terima apa adanya. Saya harus hadapi. Kita semua ingin berhasil dalam politik. Semua punya ambisi dan kepentingan dalam kehidupan politik,” SBY menerangkan. ”Tapi ada satu hal, ada satu titik, satu penggal sejarah, kita para elite dan para politisi harus bisa mengesampingkan ego kita, kepentingan yang sangat praktis di bidang kekuasaan manakala rakyat memerlukan satu pikiran bersama, satu langkah bersama untuk kebaikan mereka semua. Itulah barangkali yang kita pikirkan dalam kehidupan demokrasi yang tengah mekar dewasa ini,” ujar SBY.
Presiden SBY menilai perjalanan demokrasi di Indonesia secara umum positif. “Demokrasi bergerak ke depan, kebebasan dan penghormatan pada hak asasi manusia, demokratisasi itu sendiri, partisipasi rakyat, dan lain-lain itu harus kita jaga dan pelihara. Satu hal memang, demokrasi itu perlu pranata, perlu etika, aturan main. Itulah yang mesti kita pegang teguh, bahwa dalam memperjuangkan kepentingan politik jangan dilupakan ada tatanan-tatanan lain yang akhirnya demokrasi kita akan sangat indah. Demokrasi kita akan membawa akhlak dan rakyat akan senang karena kompetisinya akan lebih sehat, konstruktif,” jelas Presiden SBY. (osa)



