Berita Utama
Minggu, 15 Juni 2008, 17:30:39 WIB
Di Selat Makassar
Presiden Saksikan Latgab TNI 2008
Bontang: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengenakan jaket dan baret marinir, Minggu (15/6) sore menyaksikan Latihan Gabungan TNI Tahun 2008 dari atas KRI dr.Soeharso 990 di atas Selat Makasar.Latgab ini melibatkan 43 kapal pemukul, yang bergerak membentuk formasi Halong 7. Formasi ini merupakan formasi kapal-kapal tabir untuk melindungi badan utama dari serangan dan ancaman musuh. Hal ini dimaksudkan karena tahap gerakan menuju sasaran (GMS) konvoi kapal tidak tertutup kemungkinan adanya ancaman terhadapo konvoi, baik kapal selam, kapal permukaan dan pesawat udara musuh.
Dalam aksi ini salah satu kapal dalam konvoi KRI Fatahilah-361 melalui alat deteksi bawah air sonar PHS-32 berhasil mengidentifikasi kehadiran sebuah kapal selam tak dikenal mendekat ke arah konvoi. Laporan ini diperkuat dengan laporan pengamatan visual oleh pesawat patroli maritim TNI AL yang dengan segera memberikan laporan kepada konvoi kapal.
Karena kehadiran kapal selam ini maka KRI Nala -363 menaikkan derajat kesiagaan dengan menugaskan 2 kapal atau lebih untuk melaksanakan SAU (Search Attack Unit) atau UCB (Unsur Cari Binasa), dimana perwira kpmando taktis merubah taktis formasi untuk keluar dari LLA (Limiting Line of Approach), atau biasa dikenal dengan garis bahaya pendekatan dari kapal selam musuh. Selanjutnya KRI Fatahillah -361 dan KRI Nala-363 melaksanakan Urgent Attack (serangan mendadak terhadap) kapal selam musuh,dengan menembakkan senjata ASROC (Anti Submarine Rocket) atau biasa dikenal dengan Roket Anti Kapal Selam.
Roket Anti Kapal Selam merupakan senjata strategis yang dimiliki KRI Fatahillah -361 dengan jarak luncur antara 1600 yard sampai dengan 3600 yard, dan akan meledak di bawah permukaan laut pada setting kedalaman yang telah ditentukan. Ledakan roket anti kapal selam ini akan memberikan efek tekanan kejut yang sangat tinggi sehingga mampu menghancurkan kapal selam yang ada di kedalaman laut.
Usai melakukan serangan, KRI Fatahillah -361 dan KRI Nala-363 bergerak membentuk formasi Y, yang merupakan formasi kapal-kapal unsur cari binasa dalam menghadapi kapal selam. Dengan menggunakan gas turbin kedua KRI bergerak dengan kecepatan maksimum dan siap kembali meluncurkan roket anti kapal selam.
KRI Fatahillah -361 selaku koordinator peperangan anti kapal permukaan meningkatkan derajat kesiagaan merah untuk ancaman permukaan dan udara. Dan memerintahkan KRI Layang-805 dan KRI Hiu -804 untuk melaksanakan penghancuran,sasaran musuh yang berada di arah timur konvoi akan dihancurkan dengan peluru kendali C-802 yang dimiliki oleh KRI Layang -805 dan torpedo SUT dari kapal selam KRI Cakra -401.
Kapal perang musuh yang menjadi sasaran tembak ini adalah eks KRI Karang Galang yang telah pensiun dari pengabdiannya sebagai kapal perang TNI AL. Sasaran pun hancur lebur tatkala bersamaan rudal C-802 yang ditembakkan dari KRI Layang -805 dan Torpedo SUT yang ditembakkan dari Kapal Selam KRI Cakra-402 secara bersamaan menghantam sasaran yang mengakibatkan kapal ten ggelam.
Usai menyaksikan jalannya aksi pertempuran laut,Presiden SBY bergerak menuju pantai pendaratan amfibi di pantai Sekerat Sangatta Kalimantan Timur.(nnf)



