Berita Utama
Senin, 16 Juni 2008, 14:41:05 WIB
Presiden: Latihan Gabungan Setidaknya Lima Tahun Sekali
Presiden SBY menyaksikan Latihan Gabungan TNI, hari Senin (16/6) siang, dari atas KRI dr.Soeharso 990 di perairan Selat Makassar. (foto: abror/presidensby.info)
.
"Kita punya pengalaman 27 tahun lalu, tahun 1980-1981, juga dilakukan latihan gabungan dalam rentang waktu yang panjang dan wilayah yang luas, dari Sumatera hingga Papua. Tahun 1996 ada latihan gabungan dengan skala yang lebih kecil. Setelah 10 tahun reformasi TNI, sudah saatnya TNI kembali menyelenggarakan latihan gabungan berskala besar, sekaligus untuk menguji kesiagaan kita menguji kemampuan kita untuk mempertahankan keutuhan negara kita," tambahnya.
Mengenai pelaksanaan Latgab secara rutin, ujar Presiden, harus dilihat dari beberapa segi. "Pertama, dalam sistem latihan TNI ada latihan awal, berakhir pada latihan puncak dengan siklus yang berulang. Kita ikuti saja apa yang diinginkan oleh TNI untuk memelihara kesiagaan dan kemampuan pertahanannya. Kedua, berkaitan dengan anggaran, mesti kita tata secara baik, anggaran pertahanan untuk pendidikan latihan dan kesiagaan, untuk kesejahteraan prajurit, termasuk kebutuhan rutinnya, dan untuk memodernisasi dan membangun kekuatan perangnya," tambahnya.
"Memang secara berkala harus terus kita lakukan latihan gabungan seperti ini, dimulai dari latihan masing-masing angkatan, latihan-latihan tanpa pasukan dalam bentuk gladi posko misalnya, membiasakan para panglima, para komandan memimpin pertempuran operasi gabungan dalam waktu yang lama dan wilayah yang luas," jelas Presiden.
"Wilayah kita ini luas. Ada yang mengatakan secara geopolitik, geostrategi, ada wilayah corong barat, corong tengah dan corong timur. Perang sekarang ini, kata Presiden adalah perang modern, yang sangat banyak ragamnya. "Kita harus bisa bertempur di mana saja, demi mempertahankan tegaknya kedaulatan kita. Oleh karena itu kalau latihan kali ini dipilih wilayah yang membentang di wilayah Indonesia barat dan tengah, itu sesuai dengan kepentingan kita untuk memastikan bahwa kita bisa menjalankan misi militer di wilayah manapun. Dan apabila kita bisa mengerahkan pasukan dan memproyeksikan kekuatan,dengan operasi lintas udara, operasi amfibi, operasi logistik, maka ini pun juga bisa kita lakukan di mana saja," lanjutnya.
Sebelum memberikan keterangan pers, Presiden memberikan pengarahan kepada 35 Perwira Tinggi TNI, dilanjutkan dengan pengambilan gambar untuk acara Secangkir Kopi stasiun TVRI.
Setelah konferensi pers, tak lama kemudian KRI dr.Soeharso 990 merapat kembali di Pelabuhan Khusus Bontang tepat pukul 13.00 WITA. Selanjutnya Presiden beserta rombongan terbatas kembali ke Balikpapan melalui Bandar Udara Bontang. (nnf)



