Berita Utama
Selasa, 24 Juni 2008, 22:55:02 WIB
Presiden:
Agama Sering Jadi Alat Legitimasi Konflik
Presiden SBY saat menyampaikan sambutan pembukaan 2nd World Peace Forum di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (24/6) malam. (foto: abror/presidensby.info)
“Saya percaya bahwa selalu ada harapan untuk terjadinya perdamaian, meskipun situasinya terlihat mustahil. Dan ini terjadi dalam semua kasus konflik bersenjata,“ kata Presiden SBY. Sebelumnya, Presiden menceritakan proses perdamaian yang bisa tercipta di wilayah-wilayah yang sebelumnya mengalami konflik, yaitu diantara negara-negara di Asia Tenggara dan Aceh.
Presiden menegaskan, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. “Dalam banyak konflik yang dikatakan konflik agama, sebab utamanya adalah bukan benar-benar agama,“ ujarnya. “Seringkali dalam konflik bersenjata itu, agama dijadikan faktor untuk melegitimasi, untuk memperkuat, dan untuk mempopulerkan penyebabnya, dimana dasarnya adalah masalah politik, ekonomi, dan sosial, “ Presiden SBY menambahkan.
Dan bila faktor politik, sosial, dan ekonomi tidak terlalu kuat, maka sebab yang sesungguhnya adalah ketidaktahuan dan prasangka. "Prasangka yang berasal dari stereotype. Melalui propaganda, sangat mudah untuk menciptakan kesadaran kolektif dari masyarakat yang membentuk gambaran mental, yang kemudian diidentifikasi sebagai musuh,” Presiden SBY menjelaskan.
SBY mengingatkan, bahkan dalam situasi yang damai sekalipun, prasangka bisa membiakkan ketidakpekaan. Hal ini bisa berakibat munculnya kekerasan dalam bentuk-bentuk yang tak terduga
Kita semua bisa belajar dari pengalaman. Siapa saja yang ingin membangun masyarakat antarbagsa, harus belajar untuk menjadi lebih sensitif dan mempertimbangkan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa lain. "Siapa yang yang membangun beragam masyarakat dalam ras yang berbeda harus mengetahui dan menghargai satu sama lain dengan lebih baik. Kita butuh saling menghargai nilai-nilai yang diyakini secara sakral oleh yang lain,” kata Presiden.
Untuk itu diperlukan dialog. Indonesia sedang dan terus mengupayakan dialog antarkeyakinan, peradaban, dan kebudayaan. "Dan kita sudah belajar, bahwa melalui dialog untuk menghargai nilai-nilai yang dianut satu sama lain, kita bisa bekerja sama. Kita bisa saling membantu untuk memecahkan masalah yang membuat kita saling berlawanan. Kita bisa saling membantu untuk mengatasi masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial yang menjadi akar permasalahan dari berbagai konflik bersenjata,” Presiden SBY menuturkan.
“Daripada membuat garis pertempuran satu sama lain, lebih baik kita membangun komunitas bersama. Dan bila kita bisa maka kita dalam perjalanan menuju perdamaian yang abadi,” ujar SBY.
Presiden SBY menekankan bahwa tantangan dalam forum ini adalah mengidentifikasi ukuran-ukuran konkret untuk mencapai tujuan-tujuan menciptakan perdamaian itu. "Ini adalah upaya yang sangat berarti dari ide-ide terbaik anda semua, serta kebijaksanaan yang terdalam,” kata Presiden menutup sambutannya.
Usai menyampaikan sambutannya, Presiden SBY kemudian resmi membuka 2nd World Peace Forum (WPF) dengan memukul gong. WPF diikuti peserta dari 36 negara, terdiri dari berbagai kalangan seperti agamawan dan politik, pebisnis, cendekiawan, aktivis LSM, dan jurnalis. (nnf)



