Berita Utama

Krisis Minyak Dunia Sudah Lampu Merah

SBY Serukan Penghematan Habis-Habisan

Palembang: Krisis minyak dan pangan dunia belum menunjukkan tanda-tanda untuk bisa diatasi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setiap malam, mengikuti perkembangan harga minyak dalam dua pekan terakhir, yang hampir menembus 150 dolar AS per barel. "Ini sudah SOS, sudah lampu merah," kata Presiden SBY dalam keterangan persnya di Bandar Udara Internasional Mahmud Badaruddin II, Palembang, Rabu (2/7) pagi, menjelang kembali ke Jakarta.

"Saya juga mengikuti semua debat, polemik, pada tingkat global yang saya sangat tidak suka kalau saling salah menyalahkan. Menyalahkan produsen, kurang banyak memproduksi minyak. Menyalahkan konsumen, terlalu banyak mengkonsumsi minyak," ujar SBY. "Lebih baik dunia mencari solusi, duduk bersama."

Presiden SBY berpendapat, pertama, pada tingkat global sudah saatnya negara produsen minyak terbesar duduk bersama dan hitung-hitungan. Kedua, apa dampaknya bagi Indonesia. "Saya katakan tadi, setiap tengah malam saya mengikuti melalui televisi-televisi internasional. Di situlah analisis dibahas, termasuk solusi apa yang kita tempuh untuk mengatasi masalah ini. Indonesia harus mengantisipasi. Saya memberi contoh dan saya mengajak semuanya, jangan terlena, jangan tidak punya sense of crisis. Jangan merasa keadaan biasa-biasa saja dan kemudian menyalahkan policy, menyalahkan keputusan ini dan itu," SBY menjelaskan.

"Sadarilah rakyat Indonesia bahwa harga minyak ini pada tingkat dunia masih naik dan akan terus naik. (Kenaikan harga BBM) APBN kita setinggi 28,7 persen dengan asumsi harga minyak sekitar 110 sampai 120 US dolar per barrel. Sekarang ini harganya 145 dolar AS. Saya punya catatan dengan harga 140 dolar per barrel, subsidi yang kita berikan untuk BBM saja mencapai Rp 205 triliun," Presiden SBY menandaskan.

"Kalau ditambah subsidi untuk listrik Rp 80 - Rp 90 triliun, jumlahnya ini sudah mendekati Rp 300 triliun hanya untuk subsidi BBM dan listrik. Itupun kalau hargan minyak 140 dolar AS. Sekarang mendekati 150 dolar. Kalau 150 dolar tembus, dan ICP kita di situ, maka untuk bahan bakar minyak saja akan kita keluarkan uang Rp 230 triliun ditambah Rp 90 triliun listrik, total Rp 320 triliun. Kalau 160 dolar gila lagi. Bisa saja minyak dunia sampai 160 dolar, maka akan kita keluarkan Rp 254 triliun hanya untuk BBM ditambah lagi listrik Rp 90 triliun, jadi Rp 340 triliun. Ini lebih besar dari anggaran atau pengeluaran semua lembaga negara termasuk jajaran pemerintah," lanjutnya.

Presiden SBY mengajak, bukan hanya menyerukan, agar melakukan penghematan habis-habisan. "Listrik, AC, kemudian penggunaan-penggunaan untuk transportas,i semua mari kita lakukan penghematan. Rumah tangga demi rumah tangga, kantor demi kantor, tempat bisnis demi tempat bisnis, karena listrik dan bahan bakar yang digunakan itu mengambil banyak sekali dari APBN kita untuk subsidi. Makin banyak diambil, dana untuk pendidikan, kesehatan, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, guru dan lain-lain," SBY mengingatkan.

Dengan penghematan, diharapkan konsumsi BBM dan listrik berkurang. Kalau berkurang, subsidi juga berkurang. "Yang kedua, saya ingin semua hasil penelitian yang sudah dilakukan kecil-kecilan untuk mengambangun energi alternatif, seperti biofuel. Dua tahun saya sudah menggalakkan, saya minta sekaranglah untuk diproduksi besar-besaran. Tentu jangan menggunakan biofuel yang digunakan untuk pangan. Cegah dan batasi, tapi seperti jarak pagar, sepeti biomassa, limbah-limbah, itu sangat bisa kita olah menjadi disel, menjadi kerosene, menjadi sumber BBM yang lain," seru SBY.

Ketiga, masih berkaitan dengan tingginya harga minyak, APBN harus mengeluarkan Rp 300 triliun untuk subsidi. Ini belum termasuk subsidi pertanian dan lain-lain. "Ini tentu tidak sehat, mengganggu perekonomian kita. Tidak mungkin pemerintah terus-menerus menaikan harga BBM. Tetapi konsekuensinya, mari kita kelola APBN ini yang tepat, yang cespleng, yang jitu," kata Presiden SBY.

Keterangan pers Presiden SBY selengkapnya dapat dibuka pada kolom Fokus Aktual atau Ruang Pers pada web ini. Mendampingi Presiden SBY saat memberikan keterangan pers, antara lain, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkominfo M.Nuh, dan Jubir Presiden Andi Mallarangeng. (osa)