


Sabtu, 5 Juli 2008, 12:36:25 WIB
Kutai Kertanegara: Akibat harga minyak dunia yang terus meroket, subsidi BBM dan listrik sudah mencapai seperlima APBN. Ini tidak ideal, tapi pemerintah tetap harus mengeluarkan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal ini dalam sambutan peresmian PLTU Embalut, Tanjung Batu, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (5/7) pagi.
“Meskipun tidak ideal, susidi itu harus kita keluarkan. Tentu tidak mungkin pemerintah terus menaikkan harga BBM. Ikut-ikutan negara lain. Tidak mungkin. Kami punya hati, kami punya empati. Oleh karena itu ada batas-batas yang kita pilih untuk keputusan dan kebijakan tentang BBM ini,” kata Presiden SBY.
Saat ini, harga minyak dunia sudah sekitar 145 dolar AS per barel. Indonesia, seperti halnya negara-negara lain, terpaksa menaikkan harga BBM di dalam negeri. ”Agar ekonomi kita idak ambruk,” ujar SBY.
Padahal, dengan harga minyak 140 dolar saja, subsidi yang dikeluarkan pemerintah untuk BBM sudah mencapai sekitar Rp 204,9 triliun. Kalau harga minyak terus naik sampai 150 dolar, maka subsidi BBM akan menjadi Rp 229,5 triliun. Kalau 160 dolar, subsidi mencapai Rp 254 triliun. Belum lagi subsidi listrik yang saat ini sudah Rp 80 triliun.
Jika itu terjadi, maka total subsidi BBM dan listrik akan sebesar Rp 320 triliun. “Ini perlu diketahui masyarakat, agar mereka tahu,” kata SBY. “Jumlah itu hampir sepertiga APBN kita. Hampir sama dengan pengeluaran lembaga-lembaga pemerintah dan negara,” Presiden menambahkan.
“Dengan kenaikan ini, pemerintah terus mencari upaya untuk mengatasi dampaknya. Mengatur APBN, melakukan sejumlah langkah agar masyarakat Indonesia tidak menerima beban berlebihan,” Presiden SBY menjelaskan.
Dalam rangka menghemat penggunaan BBM, pemerintah mengembangkan kebijakan untuk mengembangkan sumber energi nonfosil. Indonesia kaya akan sumber energi alam, seperti air, angina, surya, bahkan biofuel. “Karena itu mari kita kurangi penggunaan BBM,” Presiden menandaskan. (har)
