Berita Utama

G-8 Yang Diperluas Berjalan Lancar

Presiden Minta Negara Seluruh Dunia Menjaga Stabilitas Harga Minyak

Presiden SBY memberi keterangan pers  di Sapporo Korakuen Hotel, Sapporo, Jepang,  hari Kamis (10/7) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY memberi keterangan pers di Sapporo Korakuen Hotel, Sapporo, Jepang, hari Kamis (10/7) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Sapporo: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa pertemuan puncak KTT G-8 Hokkaido Toyako Summit yang dihadirinya berlangsung dengan sangat baik. Di dalam pertemuan puncak G-8 Diperluas (G-8 Outreach Summit), Indonesia diundang untuk mengikuti sesi major economies meeting. "Kita diundang dalam kapasitas ikut menyukseskan konferensi PBB tentang perubahan iklim, dimana PBB dan Indonessia telah menjadi tuan rumah untuk menyukseskan konferensi PBB itu yang dunia akhirnya mengetahui telah dilahirkan Bali Roadmap dan Bali Actions Plan pada bulan Desember tahun lalu," jelas Presiden SBY dalam konferensi persnya yang diselenggarakan di Sapporo Korakuen Hotel, Sapporo hari Kamis (10/7) pagi.

Di dalam pertemuan KTT G-8 Outreach Summit, Presiden SBY yang bertindak selaku ketua delegasi Indonesia, diberikan kesempatan oleh Perdana Menteri Yasuo Fukuda menjadi pembicara awal untuk membahas tentang climate change dan ekonomi global. "Membahas tentang perkembangan ekonomi global, perlembangan keadaan energi dan keadaan pangan. Saya diberi kesempatan juga untuk jadi lead speaker yang berbicara berkaitan dengan food security yang dihadapi oleh masyarakat global," jelas Presiden SBY kepada para wartawan.

Ketika menjadi lead speaker, Presiden SBY menyampaikan pandangan dan rekomendasinya kepada negara-negara yang hadir di dalam pertemuan tersebut. Mengenai krisis harga minyak, Presiden SBY mengharapkan agar seluruh negara-negara di seluruh dunia memelihara stabilitas harga minyak jangka panjang. "Itu tidak boleh ada kepincangan atau yang saya sebut dengan mismatch antara sisi supply dan sisi demand antara sisi produksi minyak itu dengan sisi konsumsi. Banyak sekali harga minyak meroket seperti ini karena satu supply dan demand, kemudian produksi dan konsumsi, faktor geopolitik dan faktor spekulasi pasar. Sebagian dari pemimpin dunia memiliki pendapat yang sama dengan kita, yaitu karena supply dan demand," jelas SBY. SBY berharap bahwa negara-negara produsen minyak, konsumen minyak besar serta perusahaan-perusahaan minyak, dapat duduk bersama untuk merundingkan suatu perimbangan yang tepat untuk mengatasi masalah ini.

Mengenai masalah krisis harga pangan, Presiden SBY mengatakan bahwa hal tersebut dapat terjadi karena krisis harga minyak serta ketidakseimbangan antara produksi pangan dunia dan konsumsi pangan dunia. "Solusinya, produktivitas pertanian harus meningkat. Itulah yang saya sarankan, harus ada semacam second green revolution. Di Indonesia sejak tahun 2005, terus melakukan revitaslisasi perikanan, perhutanan, dengan program-program intensif dan tindakan-tindakan lain," kata SBY. SBY berharap agar para pemimpin dunia bekerja sama dalam hal alih teknologi, investasi, penelitian dan pengembangan agar produksi pangan di seluruh dunia dapat meningkat.

Selain itu, menyangkut climate change, Presiden SBY berharap ada action plan untuk melanjutkan semangat pertemuan Bali Road Map. "Harus ada target, yaitu pada tahun 2050, akan ada minimal 50 persen reduction dan target jangka menengah 2025. Kalau dilepas begitu saja, akan sangat tinggi resikonya, karena jangka panjang," jelas SBY.

Mengenai jalannya pertemuan pada hari itu, Presiden SBY mengatakan bahwa diskusi berjalan lancar. "Kemarin semua blak-blakan, angkat bicara. Kalau saling tunggu tidak akan jadi-jadi. Siapa yang mulai dulu, siapa yang mengurangi dulu. Masing-masing punya kepentingan. Baik negara maju dan berkembang harus berbuat lebih banyak, tapi negara maju harus take lead, mempelopori, dengan demikian semuanya akan ikut," jelas SBY. SBY juga berpendapat bahwa pertemuan ini adalah pertanda baik bagi umat manusia.

"Kemarin pertemuan justru lebih lumer dan cair dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya yang lebih berjarak. Kalau dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya ada titik maju. India menyampaikan ada national actions plan, China menggaris bawahi pentingnya pengurangan emisi karbon. Jelas dalam pertemuan puncak tidak bisa ada rumusan angka, time line yang pasti. Bagi saya, dengan semua setuju 2050 katakanlah ada target dan hampir semuanya setuju dengan midterm target, itu sudah merupakan kemajuan. Jangan sampai lepas kalau tidak segera ditindak lanjuti. Oleh karena itu saya harap akan ada pertemuan tingkat menteri setelahnya agar dapat diimplementasikan secara kongkrit," jelas SBY.

Tampak hadir mendampingi Presiden SBY dalam konferensi pers tersebut antara lain Mendag Mari Elka Pangestu, Menneg LH Rachmat Witoelar, Seskab Sudi Silalahi, Ketua BKPM M. Luthfi, Dubes RI untuk Jepang Jusuwf Anwar serta dua Jubir Presiden Andi A. Mallarangeng dan Dino Patti Djalal(mit/har)