Berita Utama
Kamis, 24 Juli 2008, 14:00:54 WIB
Presiden di Subang:
Peneliti Jangan Seperti Litbang, Sulit Berkembang
Presiden SBY menyerahkan benih padi varietas unggul kepada 9 bupati, pada acara pembukaan Pekan Padi Nasional III Tahun 2008, di Subang, Jawa Barat, Kamis (24/7) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Kata Presiden, hampir 30 tahun dirinya mengemban tugas sebagai prajurit. Pernah jadi guru, dan anggota DPR sebelum mengembang amanah sebagai Presiden. "Memang, ada istilah Litbang, itu berarti sulit berkembang. Karena penghasilannya pas-pasan, kerjanya setengah mati, dan kalau berhasil tidak ada yang ingat. Tapi yang mendapat keuntungan yang menggunakan hasil dari penelitian dan pengembangan itu," kata Presiden menjawab keluhan Toto (45), dosen peneliti Universitas Soedirman Purwokerto, yang mempertanyakan kesejahteraan untuk para peneliti.
Menurut Presiden, sebenarnya hal itu tahun- tahun terakhir ini, pemerintah telah menata keseluruhan insentif, sisitem penggajian dan tunjangan. "Ada Seskab di sini, tolong dicatat. Cek kembali, bagaimana sistem pembinaan karier para peneliti dan para pengembang. Bukan hanya gaji dan tunjangannya, tapi sistem kariernya, jabatannya dan seterusnya. Jangankan penelitinya, kadang-kadang cemara pun sulit hidup di situ, karena habis untuk meneliti," ujar SBY disambut tawa peserta dan undangan. "Saya kira kita butuh keadilan. Saya terima, karena saya pernah merasakan menjadi guru sekian tahun. Kadang kadang terlupakan, tapi sekarang kita perbaiki semuanya," kata Presiden
menanggapi pertanyaan dari Bupati Karawang tentang kewenangan pusat dan daerah dalam membangun infrastruktur pertanian, Presiden minta agar anggaran yang ada untuk membangun infrastruktur tepat sasaran. Ttidak boleh belok ke sana ke mari. "Kalau anggarannya jelas, sasarannya jelas, pelaksanaannya cepat dan tepat, yang senang petani dan kita semua," ujar Presiden.
Dalam dialog juga dibahas soal pengelolahan hutan, dan KUT atau Kredit Usaha Tani yang sangat bermanfaat bagi masyarakat yang ingin meningkatkan usahanya, baik petani, tukang bakso, penjual tempe dan tahu, dan sebagainya.



