Berita Utama

Presiden Buka APRM di Bali

Dipertegas, Komitmen untuk Kurangi Kemiskinan

Presiden SBY memukul kendang Bali untuk membuka The Asia-Pacific Regional Microcredit (APRM) Summit 2008, di BICC, Nusa Dua, Bali, hari Senin (28/7) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info).
Presiden SBY memukul kendang Bali untuk membuka The Asia-Pacific Regional Microcredit (APRM) Summit 2008, di BICC, Nusa Dua, Bali, hari Senin (28/7) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info).
Nusa Dua: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Senin (28/7) pagi secara resmi membuka The Asia-Pacific Regional Microcredit (APRM) Summit 2008, di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali. Peresmian ditandai dengan pemukulan kendang Bali oleh Presiden SBY dan langsung disambut dengan Gamelan Bali.

Dalam laporannya, Gubernur Bank Indonesia, Boediono mengatakan pertemuan ini diikuti sekitar 700 delegasi dari 60 negara di Asia Pasifik dan dunia. "Mereka mewakili individual pengusaha mikro, institusi keuangan mikro, bank dan aktivis keuangan mikro. Tema utama dari pertemuan ini adalah empat hal yaitu meraih orang-orang miskin, meraih dan memberdayakan perempuan, membangun institusi keuangan yang mandiri dan memastikan positif efek dalam kehidupan para keluarga miskin dan keluarganya," tambah Boediono.

Sementara Direktur Mikro Summit Caimpaign, Sam Daley Haris dalam sambutannya menyatakan bahwa pertemuan ini akan melanjutkan fokus dua tujuan yang telah ditetapkan pada Global Microcredit Summit tahun 2006. "Pertama adalah memastikan bahwa 175 juta keluarga paling miskin di dunia, terutama perempuan, menerima kredit untuk usaha dan bantuan keuangan serta bisnis di akhir tahun 2015," kata Sam. "Kedua, memastikan bahwa 100 juta keluarga paling miskin di dunia memperoleh kenaikan taraf hidup sebesar 1 Dolar AS/hari. Untuk meraih tujuan ini tidak akan mungkin tanpa komitmen yang kuat," lanjutnya.

Presiden SBY menyaksikan penayangan video mengenai manfaat kredit mikro bagi seorang perempuan di Bangladesh yang memperoleh bantuan kredit pertamanya, sebesar 10 Dolar AS untuk berjualan nasi.

Hadir pula dalam pembukaan APRM Summit 2008 adalah peraih Nobel Perdamaian tahun 2006 sekaligus Icon Microcredit International, Prof Muhammad Yunus. Dalam sambutannya, warga negara Bangladesh itu menyatakan, para delegasi berkumpul di sini untuk memperbaharui ikrar yang dulu pernah dicanangkan. "Memperbarui ikrar kita untuk membantu rakyat miskin keluar dari kemiskinan," jelas Muhammad Yunus.

"Negara-negara di Asia telah melakukan tugas dengan baik untuk menurunkan kemiskinan. Kebanyakan dari negara-negara di Asia telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan hingga 20 persen," jelas Muhammad Yunus. "Ini adalah berita bagus. Bila kita melihat konsep MDGs poin pertama yaitu menurunkan setengah tingkat kemiskinan di dunia hingga 2015, banyak negara-negara sudah berada pada track yang tepat," lanjutnya. Setelah itu negara-negara Asia harus menetapkan kapan akan mewujudkan keadaan dimana negara tidak lagi memiliki penduduk miskin.

Usai menyampaikan sambutannya, M.Yunus menyerahkan pin kepada Ibu Ani Bambang Yudhoyono sebagai tanda penghargaan selaku tokoh penggerak keuangan mikro Indonesia. Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain, mantan Presiden Peru Alejandro Toledo, Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani, Meneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali dan Gubernur Bali Dewa Beratha. (osa)