Berita Utama

SBY Melayat Almarhum Dr. Sjahrir

Presiden SBY dan Ibu Ani melayat almarhum Dr. Sjahrir, di kediaman Jl. Sukabumi No.15 Menteng, Jakarta, Senin (28/7) malam. (foto: rusman joni/presidensby.info)
Presiden SBY dan Ibu Ani melayat almarhum Dr. Sjahrir, di kediaman Jl. Sukabumi No.15 Menteng, Jakarta, Senin (28/7) malam. (foto: rusman joni/presidensby.info)
Jakarta: Usai melakukan kunjungan kerja dari Bali, didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melayat almarhum Dr. Sjahrir di kediaman Jl. Sukabumi No.15, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/7) pukul 22.35 WIB. Setibanya di rumah duka, Presiden SBY dan Ibu Negara disambut upacara adat Batak, kemudian langsung menyampaikan duka cita dan belasungkawa serta berdoa di depan jenazah almarhum.

Tampak hadir mendampingi SBY, antara lain, Plt Menko Perekonomian/Menkeu Sri Mulyani, Mensesneg Hatta Rajasa, Menhan Juwono Soedarsono, Menneg LH Rachmat Witoelar, anggota Wantimpres Ali Alatas serta Gubernur BI Boediono.

Presiden dan Ibu Negara berada di rumah duka kurang lebih selama 60 menit. Kepada wartawan, SBY menyampaikan kesan-kesan dan rasa duka atas kepergian anggota Wantimpres bidang ekonomi yang terkenal kritis ini. "Kita mengenal almarhum, adalah seorang tokoh dan ekonom terkemuka. Pandangannya jelas, analisisnya tajam, sering vokal dalam arti bicara blak-blakan. Tapi satu hal juga menawarkan solusi atas berbagai isu ekonomi nasional maupun isu-isu yang lain," kata Presiden.

Sjahrir dilantik menjadi anggora Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres bidang ekonomi pada 11 April 2007. Presiden bercerita, selama ini almarhum banyak memberikan pandangan-pandangannya secara kritis. Dan itulah kekuatan almarhum. "Di situlah saya bisa memahami pikiran-pikiran lain yang barangkali belum terpikirkan selama ini. Yang jelas kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa, yang telah mengisi khasanah tentang teori, kebijakan dan program-program ekonomi di negeri kita. Saya berharap buku almarhum yang begitu banyak itu betul-betul menjadi bagian dari sejarah pemikiran ekonomi di negeri ini dan buku itu bisa kita rawat dengan baik untuk bacaan siapapun yang ingin mengenal almarhum tapi juga sekliagus memahami pikiran-pikiran beliau," ujar SBY di depan kediaman almarhum Dr. Sjahrir.

Semasa hidupnya, Sjahrir dikenal sebagai ekonom dan politisi. Ketika masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1974, pria yang akrab dipanggil Ci`il ini menjadi seorang aktivis. Latar belakang itulah yang membawanya ke dunia politik. Pada tahun 2002, ekonom kelahiran 24 Februari 1945 itu mendirikan Partai Perhimpunan Indonesia Baru sebagai upaya menawarkan solusi bagi bangsa yang tengah dilanda masalah.

Ci`il menikah dengan Kartini Panjaitan, seorang doktor di bidang antropologi yang kini menjabat ketua Asosiasi Antropologi Indonesia. Dari pernikahan itu, pasangan Sjahrir-Kartini memperoleh seorang putra, Pandu, serta seorang putri, Gita.

Dr. Sjahrir, putra tunggal dari pasangan Ma'amoen Al Rasyid dan Roesma Malik, dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, sejak Juli 2008. Almarhum tidak pernah mengeluh mengenai penyakit kanker paru-paru yang dideritanya hingga menghembuskan nafas terakhirnya di Mount Elizabeth pukul 09.08 waktu Singapura. Jenazah Dr. Sjahrir dikebumikan esok hari di TPU Tanah Kusir Jakarta. Selamat jalan ekonom kritis, doa kami semua senantiasa mengiringi perjalananmu. (mit)