Berita Utama

Presiden Menerima Pengurus Besar NU

Presiden SBY menerima PB  Nahdatul Ulama dan panitia ICIS, hari Selasa (29/7) siang, di Kantor Presiden. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menerima PB Nahdatul Ulama dan panitia ICIS, hari Selasa (29/7) siang, di Kantor Presiden. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Hari Selasa (29/7) siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan panitia International Conference of Islamic Scholar (ICIS), di Kantor Presiden. Menurut Juru Bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng, dalam pertemuan tersebut Presiden SBY mendapatkan laporan tentang kegiatan ICIS yang juga akan dihadiri Presiden SBY besok, hari Rabu (20/7) pagi.

“Besok pagi Presiden SBY akan memberikan keynote speech,” kata Andi usai mendampingi Presiden SBY. ”Tadi juga sempat diadakan diskusi tentang bagaimana perdamaian di dunia, peran Islam dan peran Indonesia sendiri. Presiden menyambut gembira adanya inisiatif yang ketiga kalinya dari PBNU berbicara mengenai Islamic Scholar,” tambahnya.

Mengenai Jakarta Message yang akan membahas hal-hal terkait dengan analisis terhadap persoalan-persoalan konflik, anatominya dan alternatif solusi konflik, Presiden SBY berpesan agar hal ini lebih bisa diterapkan dan tidak hanya bersifat normatif tetapi bisa dilaksanakan terutama sekali oleh kelompok-kelompok ulama, cendekiawan muslim dan organisasi Islam.

Sementara itu Ketua Umum PBNU, K.H. A. Hasyim Muzadi menerangkan, besok Presiden SBY berkenan untuk menerima beberapa tokoh utama internasional sebelum konferensi itu dibuka, karena banyak pesan dari kepala-kepala negara di seluruh dunia yang akan disampaikan melalui tokoh-tokoh utama yang hadir. “ICIS yang sudah dilaksanakan untuk ketiga kalinya mengambil tema Conflict Prevention. Satu topik yang belum pernah dilakukan organisasi manapun di dunia baik inetrnal Islam maupun dunia global,” terang Hasyim.

“Di dalam conflict prevention kita ingin agar konflik-konflik utamanya di kalangan dunia Islam itu terurai dengan obyektif. Apa saja yang menyebabkannya, apakah ada jaringan-jaringan pada masing-masing konflik itu dan apakah ada juga intervensi global dalam konflik itu. Semuanya akan diurai. Tentu waktunya tidak cukup, tapi paling tidak ada gambaran yang obyektif dan konprehensif tentang adanya konflik-konflik, utamanya di dunia Islam,” tambahnya.

ICIS kali ini, lanjut Hasyim akan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah amanat dan keynote speaker. Bagian kedua adalah pembicaraan-pembicaraan intensif di masing-masing sesi. “Sesi ini akan membicarakan kasus-kasus satu-persatu, misalnya di Darfur, Libanon, Palestina, Thailand, dan Afganistan. Mereka yang akan terlibat pembicaraan adalah mereka yang terlibat di dalam konflik, pengamat dari ulama, dan penguasa yang memiliki tanggungjawab moral dan politis dari konflik itu. Sehingga kita berharap masing-masing dapat mencatat secara konfrehensif akar dari konflik itu,” Hasyim menjelaskan.

ICIS tidak berpretensi secara ambisius untuk memadamkan konflik tersebut karena hal itu sangat berat. “PBB sendiri tidak mampu melakukannya termasuk negara-negara besar. Tetapi tujuan utama ICIS, pertama adalah kesamaan visi dan pandangan terhadap duduk perkara konflik itu. Sampai sekarang kesamaan pandangan itu tidak ada dan belum ada karena setiap yang memandang selalu sudah didahului oleh pemihakan dan kepentingan-kepentingan sehubungan dengan konflik itu,” kata Hasyim.

Kedua, lanjut Hasyim, "Setelah ada persamaan perspektif tentang konflik itu, kita berharap agar dunia Islam bisa menata dirinya sendiri tanpa menggantungkan diri dari penataan orang lain. Jadi ada introspeksi di dalam komunitas Islam sendiri. Ketiga adalah kewaspadaan terhadap unsur-unsur yang memang sengaja mengganggu,” ujarnya.

ICIS yang akan berlangsung dari tanggal 30 Juli sampai 1 Agustus 2008 diikuti lebih kurang 350 peserta yang terdiri dari sekitar 200 peserta dari dalam negeri dan 150 peserta dari luar negeri. Sudah ada 142 peserta dari luar negeri yang menyatakan akan hadir, terdiri dari 53 speaker dan 89 peserta dari 66 negara. Speaker dari dalam negeri sendiri berjumlah lebih kurang 19 orang.

Pengurus PBNU dan panitia ICIS yang diterima Presiden SBY antara lain, Ketua PBNU Said Agil, Ketua PBNU Masykuri Abdillah dan Sekjen PBNU Endang Turmudi. Sementara Presiden SBY didampingi Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi dan Menteri Agama Maftuh Basyuni. (osa)