Berita Utama

Menyaksikan Upacara Ngaben di Kintamani

Presiden SBY  dan Ibu Ani menghadiri upacara Ngaben massal di  Desa Batur, Kintamani, Bali, Rabu (6/8) siang. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY dan Ibu Ani menghadiri upacara Ngaben massal di Desa Batur, Kintamani, Bali, Rabu (6/8) siang. (foto: anung/presidensby.info)
Kintamani: Hari Rabu (6/8) siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, menghadiri upacara Ngaben massal untuk 168 jenazah. Salah satu jenazah yang diaben adalah Guru Nyoman Santi, ayahanda Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, yang meninggal tanggal 19 Februari 2007 akibat penyakit jantung. Juga hadir Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mendagri Mardiyanto, Menkominfo M. Nuh, Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi dan dua Jubir Preside,n Andi A. Mallarangeng dan Dino Patti Djalal.

Acara Ngaben massal ini dilaksanakan di kuburan Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, atau sekitar 60 Km timur laut Denpasar. Ngaben massal ini baru dilaksanakan pada tahun 2008 karena pesan almarhum Nyoman Santi yang ingin pengabenannya dilakukan secara massal. Itu sebabnya, di dalam pengabenan ini disertakan 138 kerangka jenazah warga desa lainnya.

Menurut Menbudpar Jero Wacik, Ngaben massal ini memberikan banyak kontribusi, selain membantu yang kurang mampu. "Hari ini pasti banyak turis ke sini, baik turis Indonesia maupun turis asing, karena Ngaben massal ini sudah didengar oleh turis-turis asing. Jadi pasti banyak turis di Denpasar yang memperpanjang lama tinggalnya.

Presiden SBY didampingi Ibu Negara beserta seluruh rombongan menyaksikan prosesi Ngaben tersebut. Acara dimulai dari Tunon, Desa Batur, dimana 138 jenazah diangkat oleh keluarga masing-masing ke sebelah selatan Pura Batur untuk dimasukkan ke dalam 3 wadah yang dipegang oleh seorang pemangku dan 2 orang warga. Setelah masuk ke dalam wadah, jenazah diangkat dan dibawa ke kuburan. Setelah sampai, jenazah diturunkan kemudian dimandikan dan diupacarakan, dipimpin pendeta diikuti keluarga. Setelah upacara selesai, jenazah dibakar hingga menjadi abu. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah yang kemudian dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.

Usai mengikuti seluruh prosesi, Presiden SBY beserta seluruh rombongan langsung menuju Istana Kepresidenan Tapaksiring, untuk kemudian menuju Bandar Udara Ngurah Rai dan bertolak menuju Jakarta. (mit)