Berita Utama

Bela Sungkawa untuk Korban Pembagian Zakat di Pasuruan

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk 21 korban meninggal dalam kasus pemberian zakat di Pasuruan Jawa Timur. ”Kita semua terkejut, sangat prihatin. Tentu kita juga berbela sungkawa dengan saudara-saudara kita yang menjadi korban. Segera setelah saya menerima berita itu, saya menyampaikan kepada Menteri Agama untuk langsung melakukan aksi. Saya juga sudah menyampaikan ke Kapolri untuk melakukan langkah-langkah yang cepat dan tepat sambil meyakinkan dan menyampaikan kepada semua pihak, terutama jajaran pemerintah daerah karena kejadian-kejadian seperti itu terjadi di daerah untuk mengelola semua permasalahan sebaik-baiknya sesuai aturan yang ada,” jelas Presiden SBY saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Selasa (16/9) siang.

Karena ada korban, lanjut Presiden SBY, harus ada investigasi. ”Siapa yang bersalah harus diberikan sanksi agar tidak terjadi masalah seperti itu dilain waktu dan demi tegaknya hukum dan keadilan. Jangan sampai yang tidak bersalah dimaki-maki dan yang bersalah seolah-olah dianggap biasa. Kita punya pengalaman dalam menggunakan BLT yang juga ribuan. Kita tahu kalau tidak diatur, bisa saja cedera. Alhamdulillah terlaksana dengan baik,” tegas SBY.

Presiden SBY menyebutkan bahwa kejadian di Pasuruan tersebut sangat tragis. ”Kalau saudara tahu, kemarin seperti biasanya saya menerima 459 sms. Lebih dari 20 sms yang saya terima mengait kepada kasus di Pasuruan. Sebagaimana biasa, ada yang emosional, ada yang konstrukstif, ada yang jernih berpikirnya, ada yang langsung mengecam dan memaki-maki saya,” jelas SBY. ”Oleh karena itu dalam keadaan seperti ini, silent is golden itu tidak cukup. Saudara melakukan sesuatu, bertindak sambil menjelaskan kepada rakyat kita tentang duduk persoalan, tentang kejadiannya, sebab-sebabnya dan apa yang kita lakukan. Ini juga termasuk dalam pendidikan dalam arti luas. Termasuk komunikasi kita dengan rakyat dalam arti luas,” tambahnya.

Presiden juga mengingatkan bahwa dalam agama sesungguhnya memberi kepada fakir miskin itu tidak boleh merendahkan fakir miskin, dan tidak boleh mengeksploitasi mereka yang nasibnya tidak baik. ”Tidak boleh mengeksploitasi kemiskinan untuk tujuan-tujuan tertentu. Secara moral dan spiritual itupun diajarkan. Mari kita lakukan sesuatu agar hal semacam ini tidak perlu terjadi lagi,” tambahnya.

Presiden SBY mengistruksikan kepada Mensos agar memberikan santuanan kepada keluarga 21 korban yang meninggal. Presiden juga mengistruksikan kepada Kapolri untuk bertindak lebih proaktif. ”Dengan melihat beberapa kejadian sejak tahun 2003, saya minta aparat di daerah lebih proaktif. Kalau sudah diingatkan berkali-kali, namun pada hari tertentu dan jam tertentu ada kerumunan seperti itu, segera masuk. Diminta atau tidak diminta untuk mengamankan dan mentertibkan. Hal ini tidak boleh terjadi lagi,” tegas SBY.

Hadir dalam sidang kabinet paripurna tersebut antara lain, Wapres Jusuf Kalla, Menko Polhukkam Widodo A.S., Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani, Mendag Mari E. Pangestu, Kapolri Sutanto dan Panglima TNI Djoko Santoso. (osa)