Berita Utama

Artikel SBY di IHT:

Jangan Biarkan Perang Dingin Baru Muncul

Jakarta: "Perang Dingin" antara Amerika Serikat dan Rusia muncu lkembali. Tapi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat internasional tetap fokus terhadap masalah-masalah penting dunia, seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, dan ketahanan energi. Presiden menekankan hal ini dalam sebuah artikelnya bertajuk The World Cannot Afford a New Cold War di International Herald Tribune, edisi 15 September 2008.

"Saat ini, kita sudah merasakan tanda-tanda adanya `Perang Dingin` baru tersebut," tulis Presiden SBY dalam artikel tersebut. "Pengeluaran negara-negara seperti Amerika, Rusia dan China untuk bidang militer, lebih tinggi jika dibandingkan dengan akhir dari Perang Dingin."

Selain meningkatnya pengeluaran bidang militer, menurut SBY, senjata-senjata juga mulai bermunculan. Nuclear Non Proliferation Treaty juga tidak berlangsung dengan baik. Hal ini merupakan bukti kemungkinan akan terjadinya risiko konfrontasi geopolitik apabila negara-negara tersebut tidak saling mempercayai satu sama lain.

Menurut SBY, dunia internasional memiliki sedikit waktu untuk menyelesaikan masalah sesungguhnya yang dihadapi oleh semua orang. Yaitu ketahanan energi, ketahanan pangan, dan perubahan iklim. "Ketiga hal ini adalah masalah-masalah utama yang menjadi ancaman bagi kita semua. Kalau kita cermati, kita belum berbuat banyak untuk mengatasi masalah tersebut," jelas SBY.

Untuk mengatasi harga minyak yang menjulang tinggi, Presiden SBY menulis, kita harus mencari keseimbangan antara permintaan dan penawaran minyak. Selain itu, kita juga harus mengakhiri ketergantungan terhadap pengguaan minyak serta mengembangkan sumber energi alternatif.

Sedangkan untuk ketahanan pangan, SBY berharap akan adanya Revolusi Hijau Kedua yang lebih ramah lingkungan. "Hal ini dilakukan untuk meningkatkan persediaan pangan internasional, untuk membantu 33 negara apabila terjadi krisis sosio- ekonomi dan krisis politik, serta untuk membantu 100 juta penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan," SBY menegaskan.

Untuk mencegah perubahan iklim, Presiden SBY mengharapkan kerja sama dari seluruh negara di dunia untuk memulai dengan penuh ambisi dalam mengurangi efek rumah kaca. "Kita juga harus berusaha untuk memikirkan langkah-langkah untuk mengurangi dan menghentikan global warming. Paling tidak, dua derajat celcius dalam dua dekade mendatang," ujar SBY dalam artikel tersebut.

Artikel lengkap SBY di International Herald Tribune ini bisa dibaca pada rubrik `Kliping`. (*/mit)