Berita Utama

Presiden Terima Peserta Program Lemhannas:

"Perlu Refleksi, Apa Yang Kita Capai dari 10 Tahun Reformasi"

Jakarta: Sepuluh tahun reformasi, mestinya kita harus melakukan refleksi. Apa yang telah kita capai, dan apa yang belum. Dan mengapa belum dicapai, untuk menyukseskan 10 tahun berikutnya lagi, dan 10 tahun berikutnya lagi, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (22/9) siang, di Istana Negara, Jakarta saat menerima peserta program pendidikan reguler Lemhannas tahun 2008.

“Sepuluh tahun itu belum cukup. Tiongkok, sejak mendiang Deng Xiaoping sudah 30 tahun. Sejak Tembok Berlin runtuh, negara Eropa Timur lebih lama. Tahun 1998 sebetulnya sudah mulai. Tahun 1990 sudah mulai, lebih lama dibandingkan kita. Apalagi transformasi seperti Jepang, sejak dinasti Meiji. Amerika, Inggris, yang sudah ratusan tahun menata negaranya, menyusun konstitusinya, membangun kultur politiknya dan sebagainya, sampai pada tingkatan sekarang ini," tambah Presiden.

”Saudara masih ingat, waktu itu ada Sidang Umum MPR RI, dan saya ditunjuk untuk menjadi juru bicara fraksi ABRI di MPR-RI. Bulan Maret 1998, presidennya masih Pak Harto. Saya katakan bahwa reformasi mesti dilakukan, intinya begitu. Dengan catatan, reformasi itu harus gradual, konseptual, arahnya jelas, agendanya jelas, dan dikelola secara bersama.,” ujar Presiden SBY. “Waktu itu, sebagian menanggapi dengan sinis. Wah itu kelamaan, lambat. Kalau perlu revolusi. Di satu sisi ada yang tidak puas, harus secepat-cepatnya, revolusi. Ada yang konservatif, udahlah, mengalir saja. Tidak perlu itu reformasi, ini, itu, dan sebagainya.

Sejarah menunjukkan, dengan belajar dari negara-negara lain yang melakukan reformasi. Ada dua kunci, reformasi itu berhasil, pertama sesuatu yang gradual. Bertahap, tapi steady, jalan terus. "Yang kedua adalah balance. Kalau tidak, bisa gagal reformasi itu, dan sebuah negara, bahkan bisa colapse. Oleh karena itu, sejarahlah, yang setelah 10 tahun kita mengamati sekarang ini, sesuatu yang sangat dipaksakan, ternyata melipat masalahnya dikelak kemudian hari. Apalagi membikin undang-undang, membikin aturan dengan suasana yang sangat emosional dan tidak rasional. Belakangan kita tahu, ternyata menimbulkan masalah-masalah baru. Oleh karena itu, kita lanjutkan reformasi, perubahan besar ini, dengan prinsip-prinsip yang saya kemukan tadi. Ini belum rampung, jelas. Masih banyak yang harus kita tata dan kita tata kembali,” kata Presiden SBY. (win)