Berita Utama

"KIta Mesti Hadirkan Check and Balances"

Jakarta: Dulu kita melakukan reformasi karena check and balances tidak terjadi dengan baik. Eksekutif dianggap terlalu kuat, lembaga yang lain dianggap terlalu lemah. Reformasi, pendulumnya bergerak dengan cepat. Yang normal begini, tadinya begini, berangkat ke sini sedang menjadi keseimbangan baru, new equilibrium. Yang jelas, siapapun yang cenderung dominan, sehingga mengganggu check and balances, itu menimbulkan masalah.

Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Senin (22/9) siang, saat menerima peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLI Lemhannas Tahun 2008, di Istana Negara. Untuk itu Presiden mengajak semua berpikir jernih dan belajar dari masa lalu, “Kita hadirkan check and balances. Kekuasaan mesti dikontrol oleh kekuasaan. Power must not go unchecked. Saya sebagai presiden, baik kepala negara maupun kepala pemerintahan, dikontrol oleh banyak sekali, DPR, DPD, MPR, MA, MK, KPK, masyarakat luas, pers. Di situlah, karena, Saudara masih ingat dulu, kekuasaan presiden tidak tak terbatas,” kata Presiden SBY.

Presiden juga berharap, lembaga-lembaga lainnya di negeri ini juga bersedia untuk dikontrol kekuasaannya, supaya tidak abuse of power yang bisa mengulangi sejarah masa lampau, manakala kekuatan kekuasaan terlalu berlimpah pada satu tangan pada satu tangan, tangan dalam arti luas. ”Ya, lembaga, ya institusi. Saya dukung itu, dan bangun semangat untuk betul-betul menghadirkan check and balances sebagai salah satu demokrasi yang baik,” tegas Presiden SBY. (win)