Berita Utama

Presiden SBY:

"Pemerintah Telah Lakukan Antisipasi Terhadap Krisis Keuangan di AS"

Jakarta: Krisis keuangan di Amerika nampaknya sangat dalam. Magnitudenya besar dan masih akan berlangsung paling tidak satu sampai dua tahun lagi. Hal tersebut diprediksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Ada yang menyebut-nyebut sama saja dengan The Great Depression sebelum Perang Dunia II dulu," jelas SBY di Istana Negara, Minggu (28/9) malam.

Apakah Indonesia sudah mengantisipasi dan mengambil langkah proaktif? Dengan tegas SBY menjawab, sudah. "Kita sudah, sedang dan akan terus melakukan langkah-langkah antisipasi dan responsif. Bail-out package yang berjumlah 700 milyar Dollar Amerika Serikat pasti ada dampaknya terhadap negara lain. Dampak itu langsung, tidak langsung akan juga mengena pada Indonesia sebagai emerging economy," seru SBY.

Oleh karena itu Presiden SBY sudah meminta Menteri Keuangan bersama-sama dengan Gubernur Bank Indonesia dalam satu dua hari mendatang bisa menjelaskan secara utuh antisipasi dan langkah-langkah Indonesia sehubungan dengan krisis keuangan yang ada di Amerika yang berdampak bagi negara lain.

"Di sini saya garis bawahi bahwa memang kita harus pandai mengelola pasar keuangan dan pasar modal kita. Saudara juga mengetahui bahwa ada persoalan likuiditas. Oleh karena itu harus pandai-pandai betul membangun sinergi antara monetary policy dan fiscal policy. Konsultasi harus erat antara Menteri Keuangan dengan Gubernur BI," jelas SBY.

"Kedepan, terhadap semuanya itu, tahun 2009-2010 tentunya kita harus sangat tepat dalam mengelola berbagai ekspor kita, investasi, arus masuk modal. Forum Direct Investment menjadi sangat penting karena kita tidak bisa membiayai pembangunan kita, mengandalkan pasar modal. Ini saya anggap menjadi pekerjaan rumah kita untuk kita kelola secara bersama," SBY menerangkan. (osa)