Berita Utama

Sidang Kabinet Terbatas Bahas Lemahnya IHSG

Menneg BUMN/Menkeu ad Interim Sofyan Djalil memberi keterangan pers, usai Sidang Kabinet Terbatas yang dipimpin Presiden SBY, di Kantor Presiden, Rabu (8/10) tengah malam. (foto: haryanto/presidensby.info)
Menneg BUMN/Menkeu ad Interim Sofyan Djalil memberi keterangan pers, usai Sidang Kabinet Terbatas yang dipimpin Presiden SBY, di Kantor Presiden, Rabu (8/10) tengah malam. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (8/10) malam, menggelar Sidang Kabinet Terbatas yang diikuti Wakil Presiden Jusuf Kalla, sejumlah menteri bidang ekonomi, Dewan Gubernur Bank Indonesia, pimpinan BUMN, dan kalangan perbankan Indonesia. Rapat yang digelar di Kantor Presiden tersebut, membahas lebih lanjut mengenai menurunnya pasar keuangan Indonesia yang ditandai dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 10,38 persen dengan nilai transaksi sebesar Rp 988 miliar pada siang tadi.

Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian memutuskan untuk menutup perdagangan saham pada sesi pertama mulai pukul 11.08 WIB karena melemahnya IHSG. Penutupan perdagangan oleh BEI, menurut Menkeu ad Interim Sofyan Djalil, merupakan standar prosedur operasi. "Apabila penurunan lebih dari 10 persen, BEI bisa melakukan suspension. Itu juga dilakukan oleh banyak negara," katanya.

BEI, lanjut Sofyan, memperkirakan ada penyimpangan-penyimpangan dalam perdagangan yang dilakukan. "Karena jumlah saham transaksi tidak terlalu banyak, tetapi IHSG turun terlalu dalam," ia menjelaskan. Kemungkinan besar BEI masih akan menghentikan transaksi saham hingga Kamis (9/10) besok. Hingga waktu tersebut, BEI akan melakukan penelitian dan investigasi lebih lanjut mengenai penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.

Sofjan menjelaskan, dalam sidang kabinet terbatas tadi Presiden SBY menerima laporan dari seluruh anggota rapat mengenai melemahnya pasar keuangan Indonesia serta memberikan koordinasi kepada BUMN agar tindakan yang diambil sejalan dengan kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah. "BUMN yang memerlukan valuta asing, diharapkan dapat berkoordinasi dengan Bank Indonesia. BUMN dari kemarin sudah mengajukan kebutuhan valas kepada Bank Indonesia," Sofyan, yang juga Menneg BUMN, menjelaskan. Hal ini dilakukan untuk menjaga kondisi, agar tindakan-tindakan ekonomi yang dilakukan oleh BUMN tidak memperburuk pasar.

Presiden SBY, lanjut Sofyan, juga memerintahkan agar BUMN melakukan pembelian kembali saham atau buy back. Hal ini hanya akan dilakukan oleh BUMN yang memiliki banyak dana dan memiliki pasar bagus, namun harga sahamnya anjlok karena kondisi yang tidak mendukung. "Maka BUMN diminta untuk beli kembali sesuai kemampuan finansial mereka," Sofyan menambahkan.

Hadir dalam rapat yang dimulai tepat pukul 22.00 WIB tersebut, antara lain, Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi, Menneg BUMN merangkap Menkeu ad Interim Sofyan Djalil, Ketua Umum KADIN M.S. Hidayat, serta dua Jubir Presiden, Andi A. Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. Sedangkan dari pihak perbankan Indonesia, tampak Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo, Dirut BNI Gatot M. Suwondo, Dirut BRI Sofyan Basri. Lalu, Dirut Pertamina Ari H. Soemarno, Dirut PT. Aneka Tambang Alwin Syah Loebis. Pihak Bank Indonesia diwakili Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom karena Gubernur BI Boediono sedang berada di Washington. (mit)