Berita Utama
Kamis, 23 Oktober 2008, 15:23:43 WIB
Mahasiswi Peking Bercerita Kepada SBY
"Teman-teman Indonesia Ternyata tidak Suka Belajar Bahasa Jawa Kromo"
Beijing: Seorang mahasiswi Universitas Peking menceritakan pengalamannya ketika mengikuti program pertukaran pelajar dan menimba ilmu di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. “Saya sempat belajar bahasa Jawa Kromo di sana, tetapi ada yang membingungkan. Teman-teman Indonesia ternyata tidak suka belajar Bahasa Jawa Kromo dan lebih suka menggunakan bahasa campuran," ia bertutur.Sang mahasiswi itu bertanya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, usai ceramah di Universitas Peking, Beijing, Kamis (23/10) siang. Para mahasiswa Universitas Peking tampak antusias ketika mendengar ceramah Presiden SBY. Beberapa di antaranya malah asyik mencatat. Mereka juga beberapakali memberi applaus panjang.
Ketika diberi kesempatan dialog, mahasiswi itu berbicara dalam bahasa Indonesia yang lancar. ”Apa perubahan yang sedang terjadi pada masyarakat ini?" ia bertanya. "Cukup mengecewakan bapak Presiden Yudhoyono."
Menanggapi pertanyaan itu, Presiden dengan penuh senyuman mengatakan, memang tugas negara menjaga dan melestarikan budaya Jawa sebagai salah satu budaya nasional Indonesia. "Saya berjanji kepada anda, Indonesia akan melakukan yang terbaik untuk menjaga budaya dan bahasanya," ujar SBY. Globalisasi, lanjut Presiden SBY, memang telah mempengaruhi banyak hal, termasuk budaya.
Universitas Peking, menurut sang rektor, Zhi Hongxu, adalah pergutuan tingga China yang pertama memprakarsai pengiriman pelajar ke Indonesia, sejak 1949."Kami juga telah menerbitkan Kamus Bahasa China-Indonesia dan mempelopori pengenalan budaya Indonesia di China. Selama lebih dari 50 tahun, Universitas Peking juga telah menerima mahasiswa dari Indonesia,” Hongxu menjelaskan.
Universitas Peking sering mengundang kepala negara/pemerintahan untuk memberi ceramah atau kuliah umum. Selain Presiden SBY, pemimpin dunia yang pernah berceramah di sana, antara lain, PM Australia Kevin Rudd dan mantan Presiden Perancis Jaques Chirac. (win/osa)



