Berita Utama
Kamis, 30 Oktober 2008, 11:56:59 WIB
Presiden:
Soft Power Sering Menjadi Solusi dan Cocok Bagi Indonesia
Presiden SBY saat menyampaikan Orasi Kebudayaan Nasional di Kampus Undip, Kamis (30/10) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal itu dalam orasi kebudayaan di hadapan civitas akademika Universitas Diponegoro (UndiP0, pada perayaan Dies Natalis ke-51, di Gedung Serba Guna Undip, Kamis (30/10) siang.
Hard power itu, dalam hubungan antarbangsa, misalnya perang, serangan militer, embargo, sanksi ekonomi. "Kalau dalam negeri, libas, sikat, hancurkan, kalahkan dengan segala cara. Ternyata penggunaan hard power secara berlebihan itu bukan solusi, itu masalah," kata Presiden SBY
Penggunaan soft power adalah pendekatan budaya, dan itu sering menjadi solusi. Presiden SBY memilih mengedepankan pendekatan ini. "Tahun 2005 saya pernah mengkritik Amerika Serikat di Washington DC," ujar SBY. "Saya katakan, Amerika dan negara maju terlalu sering menggunakan hard power, padahal kalau hard power itu berlebihan merusak, mengganggu."
Pekan lalu, dalam KTT ke-7 ASEM di beijing, Presiden juga mengkritik masih banyak negara mengedepankan pendekatan hard power. "Saya katakan, abad 20 adalah abad yang penuh hard power, ada dua perang dunia dan bahkan banyak konflik," kata Presiden SBY.
Menurut Presiden, Indonesia lebih cocok menggunakan soft power. Indonesia menjalankan politik bebas aktif. Tidak berubah. "Saya menjalankan all direction forum policy, sepanjang memmbawa keuntungan bagi bangsa, kita bersahabat. Kalau mengganggu kepentingan kita, no! Untuk mencapai tujuan itu, berangkat dari soft power tadi, kita mengutamakan diplomasi. Kita membangun kemitraan, parnertship, dengan banyak negara di dunia. Dan manakala ada konflik kita gunakan soft power." Presiden menjelaskan.
Satu-satunya pendekatan hard power yang akan kita ambil adalah apabila kedaulatan dan keutuhan negara kita terancam. "Kalau keutuhan kita terancam dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas ke Pulau Rote, dan tidak ada cara lain, kita harus menggunakan apa yang kita miliki. Hard power, kalau perlu dengan militer untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah kita," Presiden SBY menandaskan.
Buah soft power dalam diplomasi kita, Indonesia akhir-akhir ini kembali masuk radar dunia. Kembali berada di pentas-pentas yang terhormat. "Kita kena embargo belasan tahun, dengan soft power tidak merengek-rengek, tidak meminta-minta, mereka tahu kita terus melakukan perubahan yang terbaik. Embargo itu (akhirnya) dicabut," ujar Presiden.
Begitu juga dalam kasus pelanggaran berat HAM di Timor Leste. Dunia menuduh seolah-olah Indonesia sangat berlebihan dan kurang adil. "Kita selesaikan dengan soft power dan akhirnya selesai dan kita tetap bersahabat dengan Timor Leste," kata SBY. (win)



