Berita Utama
Senin, 3 November 2008, 13:00:44 WIB
Pangeran Charles Puji Kepemimpinan SBY dalam Perubahan Iklim
Pangeran Charles menyampaikan ceramah pada Presidential Lecture di Istana Merdeka, Senin (3/11) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
”Di bawah kepemimpinan anda, Indonesia telah melakukan berbagai upaya penting untuk memperketat pengelolaan hutan hujan tropis sangat berharga yang masih tersisa, menindak pembalakan liar serta membatasi perluasan perkebunan kelapa sawit pada kawasan hutan yang digunakan untuk merealisasikan keuntungan ekonomis dari kayu. Langkah-langkah ini sangat penting dan saya gembira melihat contoh-contoh yang sedang anda lakukan pada saat saya mengunjungi hutan hujan tropis Harapan kemarin,” ujar Pangeran Charles, yang pada Minggu (2/11) kemarin telah mengunjungi hutan Harapan di Jambi.
Hanya dalam waktu 18 bulan, lanjut Pangeran Charles, prakarsa Hutan Harapan telah mencapai hasil yang luar biasa. ”Menekan penebangan liar, memulihkan kembali hutan yang rusak serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat melalui pelestarian hutan,” Pangeran Charles menjelaskan. Putra mahkota Kerajaan Inggris ini juga memuji langkah pemerintah untuk melindungi burung langka bekerjasama dengan The Royal Society for the Protection of Birds and Birdlife International.
”Tidak diragukan lagi, perubahan iklim merupakan manifestasi terbesar dari krisis ini. Oleh sebab itu, inilah saat yang tepat bagi dunia untuk bersatu padu mencari solusi. Masalah kondisi iklim yang gawat juga akan mengancam kita semua. Dan dampaknya tidak hanya bersifat sementara. Jika tidak terkendali, kondisi iklim yang gawat akan merubah geografi perekonomuan, sosial dan fisik dari dunia kita melalui berbagai cara yang kita hampir tidak bisa membayangkannya,” terang Pangeran Charles.
Minggu lalu, lanjut Charles, The International Union fot the Conservation of Nature telah mengidentifikasi tidak kurang 12 penyakit mematikan yang diprediksi akan meningkat dengan semakin meningkatnya suhu di seluruh dunia. Penyakit-penyakit itu seperti kolera, ebola, dan gangguan tidur. ”Ada yang bisa kita lakukan, dan ini bisa membuat perbedaan yang sangat besar dan kita masih sempat untuk mengembangkan perekonomian rendah karbon,” tambahnya.
Pangeran Charles juga memahami bahwa pendorong kerusakan hutan bukan berasal dari negara-negara pemilik hutan hujan tropis, melainkan negara-negara maju, yang disadari atau tidak telah memicu perubahan iklim. Oleh karena itu Pangeran Charles setuju bahwa negara maju harus memberikan insentif yang tepat bagi negara-negara berhutan hujan tropis. ”Pembayaran ini harus bersifat transaksi komersial, dengan kata lain pembayaran tersebut tidak boleh bersifat bantuan,” Pangeran Charles menandaskan.
Hadir dalam Presidential Lecture kali ini, antara lain, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani, Meneg LH Rachmat Witoelar, Ketua Kadin MS. Hidayat, dan Ketua BPPM M. Lutfi. (osa)



