Berita Utama

Orasi Ilmiah Presiden SBY

Dunia Terjadi Ketimpangan yang Mendasar

Presiden SBY saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Sidang Terbuka Dies Natalis ke-45 IPB di Graha Widya Wisuda, Bogor, Selasa (4/11) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Sidang Terbuka Dies Natalis ke-45 IPB di Graha Widya Wisuda, Bogor, Selasa (4/11) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Bogor: Dalam prasi ilmiahnya pada Sidang Terbuka Dies Natalis ke-45 IPB di Graha Widya Wisuda, Selasa (4/11) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menguraikan tiga akar dan penyebab utama dari tidak stabilnya, tidak aman dan tidak sehatnya perekonomian dunia. Pertama, terjadinya ketimpangan yang mendasar.

"Ketimpangan antara negara kuat, maju, dan kaya dengan negara lemah, terbelakang dan miskin. Ketimpangan antara supply dan demand," kata SBY. Kedua, terjadinya bubble economy atau ekonomi gelembung. "Ekonomi yang ada di permukaannya bukan real economy tetapi lebih bersifat money economy. Terjadi spekulasi yang berlebihan. Sehingga seringkali kita melihat ekonomi sebuah daerah, sebuah negara, yang tidak mencerminkan ekonomi yang sesungguhnya," Presiden menjelaskan.

Ketiga, peraturan, pemerintah dan institusi perekonomian global yang dianggap hanya menguntungkan negara-negara yang kuat dan menguntungkan multi national corporations.

Untuk mengatasi penyebab utama tidak stabilnya perekonomian global tersebut, Presiden SBY menawarkan empat solusi. "Pertama, perlu ada kesadaran dan kehendak aksi bersama yang bersifat global untuk mengurangi ketimpangan. Kedua, perlu dilakukan kampanye dan aksi global untuk mencegah ekonomi gelembung. Ketiga, mari kita telaah bersama-sama keberadaan dan fungsi dari IMF, World Bank, dan WTO itu benar-benar menjadi solusi bersama atau hanya menjadi alat bagi yang kuat. Keempat, perlu dipikirkan keseimbangan perekonomian global," ujar SBY di hadapan undangan yang sebagian besar adalah mahasiswa IPB.

Pada orasi ilmiah berjudul "Ekonomi Indonesia Abad 21, Menjawab Tantangan Globalisasi" ini Presiden SBY meminta para ahli ekonomi Indonesia memikirkan one single global currency. "Barangkali suatu saat dunia memerlukan one single global currency agar tidak ada krisis nilai tukar, agar uang tidak diuangkan dan diekonomikan, berubah dari fungsinya sebagai nilai tukar," kata SBY. (osa)