Berita Utama

Proposal Indonesia dalam KTT G-20 Konkret

Presiden SBY, didampingi anggota delegasi Indonesia, memberi keterangan pers soal hasil KTT G-20 kepada wartawan Indonesia, di Hotel Ritz Carlton, Washington DC, Sabtu (15/11) petang waktu setempat. (foto: muchlis/presidensby.info)
Presiden SBY, didampingi anggota delegasi Indonesia, memberi keterangan pers soal hasil KTT G-20 kepada wartawan Indonesia, di Hotel Ritz Carlton, Washington DC, Sabtu (15/11) petang waktu setempat. (foto: muchlis/presidensby.info)
Washington: Dalam G-20 Summit on Financial Markets and the World Economy di National Building Museum, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan proposal Indonesia untuk mengatasi krisis keuangan global konkret. “Indonesia menyampaikan bahwa upaya yang ditempuh menyangkut upaya jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang,” kata Presiden SBY dalam konferensi persnya kepada media massa Indonesia di Hotel Ritz Carlton, Sabtu (15/11) petang atau Minggu (16/11) pagi di Indonesia.

Langkah-langkah jangka pendek itu, antara lain, mengembalikan kepercayaan, terutama di sektor keuangan dengan menjamin tersedianya dana likuiditas. Selain itu, dalam pidatonya pada KTT G-20 Presiden SBY juga mengungkapkan pentingnya menjaga kepercayaan terhadap pihak perbankan, mencegah terhentinya aliran kredit, serta mengatasi persoalan pembiayaan perdagangan.

Sementara itu, untuk jangka menengah, Presiden SBY menyampaikan bahwa dunia internasional perlu melakukan langkah-langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, yang meliputi upaya kebijakan fiskal dan moneter yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sednagkan jangka panjang adalah perlu melakukan langkah-langkah yang dapat mereformasi sistem arsitektur keuangan global. Langkah-langkah tersebut harus dilakukan dengan baik dan terkoordinasi pada tingkat nasional, regional, dan global.

Actions dilakukan pada tingkat nasional, regional dan global. Indonesia mengedepankan prinsip common but differentiated capabilities. Semua harus bertanggung jawab dan melaksanakan aksi dalam mengatasi krisis ini,” Presiden SBY menjelaskan. Namun, negara-negara yang memiliki kemampuan lebih, diharapkan dapat berdiri di depan dan membantu negara-negara yang sedang berkembang. (mit/har)