Berita Utama

Indonesia Angkat Isu Trade Financing

Lima, Peru: KTT APEC tingkat kepala negara/pemerintahan atau The APEC CEO Summit di Lima, Peru, baru akan dibuka Jumat (21/11) sekitar pukul 17.00 waktu setempat atau Sabtu (22/11) dinihari di Indonesia. Presien Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pandangan Indonesia pada sesi ketujuh.Tapi sesungguhnya rangtkaian kegiatan summit sudah berlangsung beberapa hari, untuk level menteri.

Dari hasil pertemuan tingkat menteri itulah fokus APEC ini dirumuskan. Menteri Perdagangan Mari E.Pangestu dan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda selama dua hari terakhir mengikuti pertemuan tingkat menteri itu. ”Sebagian besar pembahasannya seperti bisa ditebak, yaitu berkaitan dengan global financial crisis. Karena ini adalah forum pertemuan menteri perdagangan dan menteri luar negeri. Antara lain, kita banyak fokus pada isu perdagangan,” kata Mari E. Pangestu di lobi Hotel Melia Lima, Jumat (21/11) pagi.

Ada komitmen dari menteri-menteri perdagangan yang hadir pada pertemuan APEC untuk menindaklanjuti hasil G-20 Leaders Statement di Washington, pekan lalu. Terutama soal penyelesaian perundingan Doha sebelum akhir tahun. ”Di dalam statemen G-20 tersebut sebetulnya bukan saja kita diinstruksikan untuk menyelesaikan perundingan Doha, tetapi kepala negara/kepala pemerintahan bersedia membantu kita sampai dengan selesai. Jadi intinya mereka juga akan ikut serta memecahkan berbagai macam hal yang masih menjadi isu yang tertunda,” Mari menjelaskan.

Pertemuan-pertemuan antara menteri perdagangan menyepakati akan mengirim pejabat senior untuk bertemu di Jenewa, Swiss, akhir pekan ini. Untuk Indonesia, pejabat yang akan dikirim, ujar Mari, adalah Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional Departemen Perdagangan, Gusmadi. Pertemuan untuk menyiapkan draft, mencari fleksibilitas konfergensi terhadap isu-isu yang belum selesai, termasuk special safe guard mecanism yang merupakan isu utama bagi Indonesia,” ujar Mari.

Dalam pertemuan pendahuluan APEC itu, dibahas pula isu trade financing. Isu ini merupakan usulan delegasi Indonesia. ”Kita merasa ini adalah isu penting. Kalau itu tidak bisa kita jamin, bagaimana kita bisa ada trade flows yang merupakan bagian dari recovery. Jadi kami mengusulkan itu untuk masuk dalam agenda APEC termasuk di APEC Finance Ministers,” Mari menambahkan.

Isu ketiga adalah pentingnya terus meningkatkan capacity building, trade fasilitation measures, investment fasilitation measures dan structural reforms. "Khususnya untuk membantu UKM dan eksportir-eksportir kecil dengan berbagai langkah untuk menurunkan ekonomi biaya tinggi, transaction of doing bussines dan juga capacity building. Jadi ini beberapa hal yang kami tegaskan mengingat kepentingan Indonesia,” kata Mendag Mari Pangestu. (osa/har)