Berita Utama

Presiden pada APEC CEO Summit

Krisis Bisa Menjadi Awal Perubahan dan Reformasi

Presiden SBY menyampaikan pidato pada sesi ketujuh APEC CEO Summit, di Auditorium Departemen Pertahanan Peru, Lima, Jumat (21/11) sore waktu setempat. (foto: muchlis/presidensby.info)
Presiden SBY menyampaikan pidato pada sesi ketujuh APEC CEO Summit, di Auditorium Departemen Pertahanan Peru, Lima, Jumat (21/11) sore waktu setempat. (foto: muchlis/presidensby.info)
Lima, Peru: Krisis bila ditangani secara tepat dapat menjadi titik awal sebuah perubahan dan reformasi. “Kami di Indonesia telah mengalami banyak krisis politik dan meraih kesempatan. Pada setiap titik krisis dalam sejarah, kami telah memilih pengharapan dibanding keputus-asaan,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya pada sesi ke-7 APEC CEO Summit 2008 di Auditorium Departemen Pertahanan, Lima, Peru, Jumat (21/11) sore waktu setempat atau Sabtu (22/11) pagi di Indonesia.

Presiden SBY percaya bahwa kunci dari kelangsungan hidup terletak pada komitmen kita kepada masyarakat. “Saya percaya bahwa perusahaan-perusahaan harus memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk membantu komunitas dunia dalam masa sulit. Pada puncak krisis minyak terakhir ini, kami menjadi saksi apa yang dinamakan “transfer kekayaan terbesar dari satu negara ke negara lainnya”, melibatkan 2,3 triliun dolar AS setiap tahun, yang dinikmati oleh negara penghasil minyak dan perusahaan minyak,” ujar SBY

“Saya tidak setuju dengan nasionalisasi, tetapi saya percaya pada preposisi bahwa yang kuat harus membantu yang lemah. Dan keuntungan besar tersebut seharusnya dimanfaatkan bagi kebaikan dan solidaritas antar manusia,” Presiden menegaskan.

APEC telah mempromosikan perlunya Corporate Social Responsibility (CSR) di Asia Pasifik. Pada situasi krisis global seperti sekerang, sudah semestinya perusahaan memasukkan program tanggung jawab sosial ini ke dalam strategi bisnis mereka. "Dan memastikan operasi bisnis mereka memperhitungkan masyarakat yang berada di sekitar mereka. Menjadi bertanggung jawab kepada lingkungan dan berkontribusi pada pembangunan. CSR bisa dilakukan dengan berbagai macam cara,” Presiden SBY menjelaskan.

Dunia bisnis memiliki peran penting, baik dalam keadaan normal maupun pada masa krisis. "Sejak hari pertama krisis keuangan global, saya telah memastikan bahwa pemerintah, bank sentral, dan dunia bisnis duduk bersama-sama mencari solusi dan mengatasi krisis. Beberapa perusahaan mungkin gagal bertahan. Untuk kasus-kasus tersebut, kita tidak bisa menunda sesuatu yang tidak dapat dielakkan,” tambahnya.

”Kita harus menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan dan fokus pada harapan akan masa depan. Pendidikan, usaha kecil dan menengah, energi alternatif, kemajuan teknologi. Kita menghadapi masa-masa sulit ke depan, tetapi kita masih memiliki pilihan: pengharapan atau keputus-asaan, kesempatan atau kegagalan. Saya percaya bahwa anda akan membuat pilihan yang tepat,” SBY menegaskan.

Setelah Presiden SBY menyampaikan pidatonya, acara dilanjutkan dengan diskusi panel yang dipandu General Manager Daewoo Asia Pasifik Nick Reilly sebagai moderator. Tampil sebagai panelis yang mengomentari pidato Presiden SBY adalah Chief Research and Strategic Officer Microsoft Corporation Craig Mundie, CEO Freeport McMoran Copper and Gold Richard Adkerson, dan CEO Alibaba Group Jack Ma. (osa/har)