Berita Utama
Minggu, 23 November 2008, 09:34:10 WIB
Indonesia-Australia Dirikan Pusat Penanggulangan Bencana Senilai 67 Juta Dolar Australia
Presiden SBY dan PM Australia mengadakan konferensi pers bersama di Hotel Melia, Lima, Peru, Sabtu (22/11) petang waktu setempat. (foto: haryanto/presidensby.info)
Isu koordinasi penanganan dan pengurangan bencana merupakan salah satu topik penting yang dibahas dalam KTT ke-16 APEC. "Kami akan menyampaikan kerjasama ini dalam pertemuan pimpinan APEC besok," kata Presiden SBY.
Dana sebesar 67 juta dolar Australia itu untuk membangun semacam pusat penanggulangan bencana yang akan didirikan di Jakarta dan mulai operasional pada April 2009. Tempat ini akan membantu Indonesia dan negara-negara kawasan dalam upaya mengurangi dampak bencana dan memperbaiki manajemen mereka melalui pelatihan dan kemampuan melakukan analisis terhadap bencana.
Presiden menjeaskan, banyak negara di kawasan Asia-Pasifik yang rawan bencana. “Kita semua tahu bahwa bencana alam dapat terjadi tanpa pemberitahuan, kapan saja, dan memberikan dampak yang sangat besar kepada kita,” kata Presiden SBY, di depan wartawan Indonesia dan Australia. “Bencana tersebut tidak hanya mengambil nyawa, tetapi juga mengambil mata pencaharian bagi yang selamat dari bencana."
Pekan lalu, Indonesia dan Australia sama-sama mengalami bencana yang mengenaskan. Di Sulawesi terjadi gempa bumi berkekuatan 7,7 skala ritcher. Lalu, Queensland, Australia, dihantam topan. "Di kedua daerah tersebut banyak orang terlantar dan kerugian materal yang besar,” SBY menambahkan.
Mengingat kondisi tersebut, Indonesia dan Australia kemudian sepakat membentuk Australia-Indonesia Disaster Reduction Facility, di Jakarta. Rencana pembentukan pusat pengendali bencana bersama ini dirintis pada pertemuan bilateral kedua negara Juni lalu. Sejumlah ahli dari kedua negara bekerjasama melakukan studi kelayakan bersama atau joint feasibility study untuk bedrkoordinasi dan penanggulangan bencana. Mereka mengunjungi beberapa pusat-pusat bencana. "Kesimpulannya adalah, ketika semua mekanisme bencana yang ada memainkan peranan pentingnya, masih ada kesenjangan pada penguatan kapasitas nasional untuk mengurangi risiko bencana,” SBY menjelaskan.
Baik Indonesia maupun Australia akan membawa pemikiran soal perlunya koordinasi penanggulangan bencana secara regional ini ke dalam APEC Economic Leader`s Meeting sesi kedua, yang mendiskusikan isu tersebut. ”Jelas bahwa masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Indonesia dan Australia telah setuju untuk mengembangkan fasilitas Australia-Indonesia Disaster Redeuction berbasis di Jakarta. Indonesia dan Australia sangat berharap dapat mengembangkan fasilitas ini selama kuarter pertama tahun depan,” kata SBY.
Fasilitas tersebut juga diharapkan dapat mengembangkan hubungan antara ASEAN dan APEC dalam soal mekanisme manajemen bencana. “Ini akan memastikan bahwa tidak ada tumpang tindih pekerjaan sehingga membuat manajemen bencana di kawasan semakin efisien. Pekerjaan yang harus diselesaikan adalah memastikan bahwa Indonesia dan Australia mempunyai kebutuhan capacity-building untuk mengurangi dampak dari segala bencana,” tandas Presiden SBY.
Mendampingi Presiden SBY dalam keterangan pers bersama Pm Auistralia Kevin Ruud, antara lain, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita, Menlu Hassan Wirajuda, Mensesneg Hatta Rajasa, Mendag Mari E. Pangestu, Mentan Anton Apriyantono, Meneg LH Rachmat Witoelar, dan Jubir Presiden Dino Patti Djalal. (osa/har)



