Selasa, 2 Desember 2008, 17:09:29 WIB
"Kader Partai yang Sudah Terpilih, Tidak Boleh Lagi Seolah-olah Milik Partai"
Presiden SBY memberi pembekalan pada Peserta Program Pendidikan Regular Lemhannas, di Istana Negara, Selasa (2/12) sore. (foto: anung/presidensby/info)
Jakarta: Salah satu fungsi partai politik adalah menyiapkan kader untuk bertugas baik di eksekutif maupun menjadi calon di legislatif. Setelah yang dicalonkan terpilih maka sebenarnya dia sudah menjadi pejabat publik, maka tidak boleh lagi seolah-olah milik partai. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Selasa (2/12) sore, di Istana Negara, Jakarta, saat memberikan pembekalan pada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLII Lemhannas RI.
“Partai Politik memang berfungsi menyiapkan kader dan calon-calonnya apakah yang bertugas di legislatif, eksekutif. Contohnya misalnya, partai menyiapkan kadernya untuk maju sebagai calon legislatif, baik di DPRD kabupaten/kota maupun tingkat provinsi dan DPR RI. Dalam pilkada, partai menyiapkan kader-kadernya untuk menjadi calon gubernur, bupati, wakil bupati maupun walikota dan wakil walikota. Dan tahun depan parpol-parpol juga mempersiapkan kadernya menjadi calon presiden dan wakil presiden,” kata Presiden SBY.
Setelah yang dicalonkan terpilih maka sebenarnya dia sudah menjadi pejabat publik. Maka tidak boleh lagi seolah-olah milik partai. Tidak boleh lagi seolah-olah garisnya kepada pimpinan partai politik itu. Sudah wilayah negara, sudah wilayah pemerintah. Garisnya sudah garis pada struktur pemerintahan dan kenegaraan,” lanjut SBY. “ Nah, di sini pemahaman dasar tentang politik dan sistem politik. Ini penting untuk kita semua memahami, di mana posisi seseorang sebelum dan setelah
election dilakukan,” tambahnya.
Dalam kesempatan ini, Presiden SBY juga berharap agar alumni Lemhannas untuk terus meningkatkan kemampuan dan prestasinya. ”Tidak berarti sudah lulus Lemhannas sudah selesai. Kembangkan diri terus, asah diri, terus berprestasi setiap jenjang penugasan. Kalau itu yang dilakukan, percayalah, akan masuk radar terus. Kalau tidak, bisa-bisa bukan jauh di mata dekat di hati, tapi dekat di mata jauh di hati,” kata Presiden SBY disambut geer para peserta.
Presiden menambahkan, bahwa jangan seolah-olah
leadership itu pasti bisa mengatasi semua persoalan di sebuah negara. ”Saya ingin menyampaikan ini, karena ini penting sebagai pemahaman dasar. Memang ada kata-kata kepemimpinan itu penting. Orang mengatakan sangat penting, kunci. Tapi ingat, negara itu berjalan. Negara itu dikelola oleh banyak faktor, sistem, nilai dan kultur, tingkat kompleksitas permasalahan. Ada faktor-faktor eksternal yang begitu mempengaruhi keadaan dalam negeri itu,” lanjutnya.
“Seperti sepuluh tahun yang lalu, krisis keuangan Asia ditambah dalam negeri kita yang memang sudah susah. Ada krisis kepemimpinan, ada reformasi berskala besar , dan sebagainya. Jadi banyak faktor. Contohnya Thailand sekarang. Apa ada krisis kepemimpinan atau krisis demokrasi, atau India, atau Amerika Serikat yang dilanda krisis ekonomi, apakah masalah
leadership?” Tanya Presiden SBY.
“ Jadi banyak yang harus dikelola secara bersama, meskipun saya setuju kepemimpinan itu kunci . Kepemimpinan itu sangat penting dalam organisasi apapun, dalam kehidupan profesi apapun, termasuk kehidupan politik di sebuah negara ataupun di suatu daerah,” ujar Presiden SBY. (win)