Berita Utama
Kamis, 4 Desember 2008, 11:50:17 WIB
Presiden: Menyelamatkan Lingkungan Harus Dengan Kerja Nyata
Jakarta: Menyelamatkan lingkungan tidak bisa berhenti di ruang seminar, acara talkshow atau artikel-artikel saja, meskipun hal itu juga penting. Penyelamatan lingkungan harus dilakukan dengan dengan kerja nyata. Saat menerima peserta Kongres XXII Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) di Istana Negara, Kamis (4/12) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan agar melakukan kegiatan-kegiatan praktis untuk menyelamatkan lingkungan.“Saya mendukung penuh dan tentunya masyarakat menyambut dengan baik tema lingkungan yang diangkat dalam Kongres Perwari. Siapa lagi yang menyelamatkan tanah air kita, bumi kita, kecuali kita sendiri. Siapa lagi yang menyayangi anak cucu kita, generasi muda kita untuk hidup dengan baik dan selamat di kemudian hari, kecuali kita sendiri,” ujar Presiden SBY. “Ada pepatah yang mengatakan, bumi makin panas, jangan hanya kipas-kipas. Kalau kipas-kipas, tidak memecahkan masalah. Yang cerdas adalah bagaimana membuat bumi tidak makin panas,” seru SBY.
Dalam kesempatan tersebut Presiden SBY menyerukan ajakan dan harapan bagi para peserta Kongres Perwari dan juga masyarakat umum. “Ada tiga ajakan saya. Pertama, mari benar-benar kita pelihara dan jaga lingkungan di negeri kita sebagai bagian dari upaya menyelamatkan lingkungan sedunia. Kedua, mari kita sukseskan gerakan nasional untuk meningkatkan ketahanan pangan. Ketiga, mari kita kembangkan ekonomi kreatif,” tambah SBY.
Presiden SBY juga mengungkapkan tiga harapannya kepada peserta Kongres Perwari. ”Pertama, teruslah meningkatkan pengetahuan ibu-ibu. Pengetahuan itu penting agar kita menjadi bangsa yang cerdas. Kedua, perkuat kepedulian dan kesetiakawanan sosial. Dan ketiga, teruslah berkontribusi pada kehidupan masayarakat. Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,” tegas Presiden SBY.
Nampak hadir dalam acara tersebut antara lain, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Meneg Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta, Mensesneg Hatta Rajasa, Mendag Mari E. Pangestu dan Menkes Siti Fadillah Supari. (osa)



