Berita Utama

Presiden di Padang:

Sekarang Bagaimana Kita Mengaktualisasikan Pandangan M. Natsir

Padang: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani hari Sabtu (13/12) pukul 22.00 WIB menghadiri syukuran masyarakat Sumatera Barat atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada M. Natsir, di Gedung Serba Guna PT. Semen Padang, Padang, Sumbar. M. Natsir ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 41/TK/2008 pada tanggal 6 November 2008.

"Kami masyarakat Sumatera Barat bersyukur atas ditetapkannya M. Natsir sebagai Pahlawan Nasional," kata Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi. "Kami menyadari bahwa keputusan yang diambil ini bukan keputusan yang mudah dan sederhana. Bagaimanapun sejarah selalu mencatat dan masyarakat Sumatera Barat akan mengingat bahwa pengukuhan M. Natsir sebagai pahlawan terjadi pada saat kepemimpinan Presiden SBY. Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya," lanjutnya.

Presiden SBY mengungkapkan, jika berbicara tentang M. Natsir maka tidak akan ada habis-habisnya. "Betapa banyak apa yang telah dilakukan almarhum, dan betapa luas cakrawala kepemimpinannya. Sekarang bagaimana kita mengaktualisasikan apa yang menjadi pikiran, sosok kepribadian, pandangan dan apa yang dilakukan M. Natsir," terang SBY. Dari banyak pengamatan terhadap M. Natsir, Presiden SBY mengambil empat sisi dari sekian banyak aspek dan dimensi yang apabila diaktualisasikan dalam kehidupan tentu akan membawa kebaikan yang nyata.

Pertama adalah bagaimana Pahlawan Nasional, M. Natsir ini melihat dunia pada jamannya. "Ketika dominasi kaum penjajah amat kuat. Asia, Afrika, Amerika Latin di tangan para pemerintah kolonial, beliau anti penjajahan. Itulah yang mendasari mengapa negara dan saya memutuskan untuk memberi gelar kepada M. Natsir. Itulah semangat yang harus kita lestarikan dan aktualisasikan. Dulu ketidaksukaan kita kepada penjajah kita lakukan dengan memerdekakan diri. Sekarang ketika kita sudah merdeka, kita ingin tatanan yang ada di dunia ini adalah tatanan yang adil," SBY menerangkan.

Nilai kedua yang bisa dipelajari adalah mosi integral Natsir. "Ketika negara kita mengalami krisis belum memikirkan keutuhan, integritas teritorial, kedaulatan, kesatuan kita sebagai negara nasional. Sekarang, tantangan itu masih ada. Meskipun kita tidak mengalami serangan agresi dari negara manapun yang mengganggu keutuhan kita, tetapi NKRI harus utuh. Tugas kita sekarang adalah mari kita pastikan seluruh wilayah NKRI ini bisa membangun diri, meningkatkan sejehateraan rakyat dan membangun daerahnya," kata SBY.

Nilai ketiga adalah berkaitan dengan agama dan peradaban. "Almarhum adalah tokoh besar Islam. Kita rindu dan kita masih ingin muncul tokoh-tokoh besar seperti itu. Kalau itu dijalankan maka kesalahpahaman tentang Islam perlahan-lahan bisa disingkirkan," lanjutnya.

"Nilai keempat, sekarang ini kita mengenal benturan antar peradaban. Sebenarnya ini merupakan benturan antara fundamentalis yang sesungguhnya tidak mencirikan ajaran agama, budaya. Akibatnya benturan terjadi. Tetapi bila semua dijalankan dengan benar seperti yang dilakukan M. Natsir maka tidak akan terjadi benturan tersebut. Oleh karena itu yang kita perlukan adalah jembatan dan dialog," ujar SBY.

"Kalau saya teruskan masih banyak yang bisa saya ungkapkan. Empat itulah yang menurut saya sangat melekat pada M. Natsir. Semoga kita bisa meneruskan perjuangannya dan generasi muda dapat mengenal beliau," tambahnya. Hadir dalam acara tersebut antara lain, Seskab Sudi Silalahi, Menteri PU Djoko Kirmanto, serta Jubir Presiden Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng. (osa)