Berita Utama

Presiden: Indonesia Kecam Keras Aksi Militer Israel yang Berlebihan di Gaza

Presiden SBY memberi keterangan pers di Kantor Presiden, Senin (28/12) siang, mengecam aksi militer Israel. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY memberi keterangan pers di Kantor Presiden, Senin (28/12) siang, mengecam aksi militer Israel. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Pemerintah Indonesia mengecam keras aksi-aksi militer Israel yang dinilai berlebihan dan tidak proporsional, yang betul-betul mengakibatkan korban jiwa dan harta benda yang besar. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Press Briefing di Kantor Presiden, Senin (28/12) siang.

Sebelumnya, Presiden SBY memimpin Sidang Kabinet Terbatas yang membahas perkembangan situasi di Gaza yang makin mencemaskan. "Belum ada tanda-tanda Israel untuk menghentikan aksi-aksi militernya. Di sisi lain kita menyaksikan dan mendengar melalui berbagai media bahwa serangan yang dilakukan oleh Israel, utamanya serangan-serangan udara, telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan material yang besar, termasuk mereka-mereka yang tidak berdosa, wanita dan anak-anak," ujar SBY.

Beberapa jam setelah terjadinya aksi militer itu, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan pernyataan yang keras. "Saya sampaikan kepada Menteri Luar Negeri kita untuk secepat mungkin mengeluarkan statement itu. Sementara itu, kita sekali lagi menyaksikan belum ada tanda-tanda bahwa aksi ofensif itu akan segera berakhir. Tadi pagi saya berkomunikasi dengan Duta Besar kita yang ada di PBB, saudara Marty Natalegawa, yang juga perwakilan kita di Dewan Keamanan PBB karena Indonesia masih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB," SBY menjelaskan. "Dubes kita melaporkan kepada saya langkah-langkah apa saja yang telah diambil oleh DK PBB untuk benar-benar bisa mengakhiri serangan-serangan Israel, memulihkan keadaan dan kemudian proses perundingan bisa dilanjutkan kembali antara Israel dengan Palestina," kata SBY.

Pemerintah Indonesia berpendapat bahwa harus ada kegiatan dan langkah-langkah yang lebih nyata, untuk bisa dipatuhi pihak Israel. "Sama dengan yang dilakukan Indonesia dulu ketika terjadi perang di Libanon. Serangan Israel dengan skala yang sangat besar waktu itu terjadi beberapa hari, dan belum ada tanda-tanda untuk dihentikan. Bahkan terus terang Indonesia melihat waktu itu harusnya DK PBB bisa melakukan langkah-langkah yang lebih cepat. Oleh karena itu kita berkontribusi waktu itu. Saya menulis surat kepada Sekjen PBB dan berkomunikasi dengan Dewan Keamanan. Saya menyarankan untuk ada pertemuan pemimpin-pemimpin OKI, yang Alhamdulillah bisa dilaksanakan di Kuala Lumpur, dan kemudian Indonesia untuk yang pertama kali mengusulkan ada tambahan peace keeping forces yang bisa digelar dan melaksanakan tugas di Libanon dengan Indonesia bersedia untuk mengirimkan kontingennya dalam jumlah yang cukup sebagai bagian dari pasukan pemelihara perdamaian di sepanjang perbatasan Israel dan Libanon," kata SBY.

"Apa yang kita lakukan dulu menjadi bagian dari solusi yang sekarang kita pertahankan dalam pemeliharaan di Libanon. Apa yang terjadi seperti sekarang ini, Indonesia berpendapat bahwa langkah yang serupa harus kita lakukan. Oleh karena itu hari ini saya menandatangani surat untuk saya kirimkan kepada Sekjen PBB, Ban Ki-moon, juga Presiden dari DK PBB, yang pokok-pokoknya adalah kembali mengecam dengan keras aksi-aksi militer Israel yang kita nilai berlebihan dan tidak proporsional, yang betul-betul mengakibatkan korban jiwa dan harta benda yang besar," tambahnya.

Dalam surat tersebut Presiden SBY juga menggarisbawahi bahwa masyarakat dunia, terutama PBB dan DK PBB harus segera mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. "Memang saya tahu bahwa PBB telah melakukan pertemuan informal dan telah menghasilkan pernyataan tertulis Presiden DK PBB, yang diserukan dihentikannya serangan-serangan Israel itu. Indonesia berpendapat DK PBB segera bersidang secara formal untuk mengeluarkan resolusi, kemudian betul-betul memaksa Israel menghentikan serangan-serangannya dan kemudian keduabelah pihak, Israel dan Palestina bisa kembali masuk kepada peace proses sebagaimana seperti yang kita saksikan terjadi gencatan senjata hampir setengah tahun lamanya dan menciptakan keamanan dan perdamaian yang baik waktu itu," SBY menegaskan.

"Indonesia, juga melalui surat saya, menghimbau agar masyarakat dunia melakukan bantuan kemanusiaan karena tentunya situasi kemanusiaan sangat buruk. Kita saksikan sendiri, yang luka-luka cukup banyak, ratusan. Oleh karena itu bantuan kemanusiaan perlu diberikan. Indonesia juga akan memberikan bantuan tunai, satu juta dollar Amerika Serikat diluar bantuan obat-obatan yang juga dikirim ke wilayah konflik. Dan diatas segalanya kali ini memang PBB, DK PBB, dan masyarakat internasional harus memberikan kepedulian, atensi yang sungguh-sungguh dan berkontribusi secara nyata karena taruhannya sangat besar," ujar SBY.

Ironisnya, lanjut SBY, justru hari ini kita memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam, dan Insya Allah tiga hari lagi kita memasuki tahun baru Masehi, 1 Januari 2009. "Mestinya kita berdoa dan berharap agar dunia kita makin damai. Tapi kita dirobek oleh peristiwa yang terjadi di Palestina dan di Gaza sekarang ini," kata SBY.

"Oleh karena itu sesuai dengan amanah konstitusi kita, Indonesia akan melakukan peran yang aktif dalam kaitan ini, dan dalam surat saya kepada Sekjen PBB dan Presiden DK PBB, Indonesia siap sedia untuk berkontribusi apapun dalam penyelesaian masalah di Palestina, termasuk dalam upaya menghentikan serangan-serangan Israel demi pulihnya keamanan di wilayah itu. Kami akan memantau terus perkembangan di Gaza. Indonesia akan terus melakukan upaya baik secara bilateral, regional maupun multilateral bagi pulihnya kembali situasi keamanan di Gaza," tandas Presiden SBY.

Mendampingi Presiden SBY adalah Menko Polhukkam Widodo A.S., Menhan Juwono Sudarsono, Panglima TNI Djoko Santoso, dan Mensesneg Hatta Rajasa. (osa)