Berita Utama
Senin, 5 Januari 2009, 15:41:33 WIB
Presiden Serahkan DIPA
Pertama Dalam Sejarah, APBN Melampaui Rp 1.000 Trilyun
Presiden SBY menyerahkan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) kepada Gubernur Jawa Barat, hari Senin (5/1) siang, di Istana Negara. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY dalam sambutannya mengatakan, dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya, terjadi peningkatan anggaran yang sangat pesat, dan ini tentu berkat kerja keras seluruh komponen bangsa, seluruh rakyat Indonesia termasuk para pimpinan daerah. ”Belanja negara telah meningkat dari Rp. 509,6 triliun pada tahun 2005, menjadi Rp. 1037,1 triliun pada tahun 2009, naik dua kali lipat lebih", kata SBY.
"Demikian pula belanja pemerintah pusat dalam periode yang sama, meningkat dari Rp. 361, 2 trilyun menjadi Rp 716, 4 trilyun, juga meningkat hampir dua kalinya. Sedangkan transfer ke daerah meningkat dari Rp 150 trilyun menjadi Rp. 320,7 trilyun, meningkat dua kalilipat,” kata SBY. "Namun anggaran itu semua marilah kita gunakan sebaik-baiknya, jangan sembrono. Mari kita gunakan secara cermat, tepat sasaran, tepat waktu dan cegah penyimpangan. Saya kira kita semua mempunyai komitmen untuk menggunakan anggaran ini dengan sebaik-baiknya,” ujar SBY.
"Pemerintah pusat terus mendorong agar pemerintah daerah mempercepat waktu penetapan Peraturan Daerah tentang APBD, agar APBD dapat dilaksanakan secara efektif. Dalam UU disebutkan DPRD itu juga perangkat pemerintahan. Jadi sebenarnya hubungan antara para gubernur, bupati dan walikota dengan DPRD harus satu komitmen, satu niat, satu misi untuk melancarkan semua proses implementasi APBN dan APBD. Keterlambatan dalam pengesahan APBD akan menyulitkan dan mengganggu pembangunan di daerah-daerah. Saya berharap agar mulai sekarang jangan ada lagi yang terlambat. Tepat waktu, untuk kita semua, untuk daerah,” kata SBY.
Presiden mengingatkan agar seluruh jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk terus melakukan langkah penghematan dan efesiensi dengan rasional serta penuh kesungguhan. "Penghematan dapat dilakukan dengan mengefesienkan penggunaan daya dan jasa seperti listrik, telepon dan air. Laksanakan perjalanan dinas yang perlu-perlu saja, dan batasi penyelenggaraan rapat di hotel-hotel. Saya tidak habis pikir, ada pejabat yang memakai telepon lebih dari 10 menit. Saya telepon 3 menit sudah lama juga. Apalagi dengan menteri, lebih baik panggil saja untuk ketemu. Kalau kita semua berhemat telepon, listrik, air, AC, dan membatasi perjalanan dinas, tidak harus di hotel rapat-rapat, berapa trilyun rupiah yang bisa kita hemat. Kita tidak boleh dalam menggunakan anggaran, saya ingatkan, anggaran berbasis kinerja bukan berarti kita menggunakan uang sebanyak-banyaknya, lantas hasilnya meningkat. Tapi dengan anggaran yang cukup dan yang rasional, kita bisa meningkatkan output dengan setinggi-tingginya,” tegas SBY.
Sebelumnya, Plt Menko Perekonomian merangkap Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam sambutannya mengatakan, rencana kerja pemerintah tahun 2009 ini bertemakan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan, dengan tiga prioritas pembangunan nasional, yaitu peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan pedesaan, memperkuat daya tahan ekonomi dan pertanian, infrastruktur, dan energi, serta upaya peningkatan anti korupsi, reformasi birokrasi. Untuk menunjang prioritas ini, anggaran tahun 2009 diutamakan pada anggaran pendidikan, perbaikan kesejahteraan aparatur negara, dan pensiunan, perlindungan sosial, program BOS, Jamkesmas, Program Raskin, PNPM dan BLT. (win)
Link Terkait:
Sambutan Presiden RI pada Acara Penyerahan DIPA Tahun 2009
Penyerahan DIPA yang kita laksanakan pada hari ini, juga merupakan simbol dari tanggung jawab dan kesungguhan kita semua, untuk dapat melaksanakan program kerja dan mengelola anggaran tahun 2009 secara akuntabel, profesional, proporsional, transparan, dan berorientasi pada hasil.



