Berita Utama

Presiden: Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina Sebagai Jihad

Presiden SBY menerima pin emas sebagai pejabat publik peduli zakat, diserahkan Ketua Umum Baznas, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, di Auditorium Bina Karna, Bidakara, Jakarta, Sabtu (17/1) pagi. (foto: cahyo/presidensby.info)
Presiden SBY menerima pin emas sebagai pejabat publik peduli zakat, diserahkan Ketua Umum Baznas, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, di Auditorium Bina Karna, Bidakara, Jakarta, Sabtu (17/1) pagi. (foto: cahyo/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak masyarakat untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan, obat-obatan, apa yang dibutuhkan oleh saudara kita di Gaza untuk bisa hidup, sebagai wujud kesetiakwanan dan jihad kita. Ajakan ini disampaikan pada acara Rakornas dan Milad Baznas ke 8 di Auditorium Binakara Bidakara Jakarta, Sabtu (17/1) siang.

"Sekarang ini sedang terjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang tidak pernah terbayangkan. Saya tidak ingin mengulangi, saudara bisa mengikuti di televisi baik internasional maupun nasional dan informasi yang lain. Saya katakan sudah melampaui batas. Sebuah tragedi yang tidak mungkin manusia sedunia membiarkannya. Oleh karena itu pemerintah Indonesia sejak awal bukan hanya mengutuk dan mengecam serangan Israel, tapi kami telah dan terus akan berbuat dan bekerja," kata Presiden.

"Beberapa saat setelah terjadi penyerangan, saya menulis surat kepada Sekjen PBB dan Presiden DK PBB, sebagai mana peran kita dulu untuk mengakhiri serangan Israel di Libanon. "Sekarang pun harus dilakukan seperti itu. Saya kecewa memang, karena Dewan Keamanan PBB lamban mengambil keputusan dalam mengeluarkan resolusi. Resolusi itupun tidak dipatuhi, sehingga korban masih berjatuhan. Oleh karena itu, allhamdulillah, sejak kemarin PBB telah mengadakan Sidang Darurat Majelis Umum, dan itu usulan Indonesia atas surat yang kita sampaikan, dan pidato duta besar kita dalam sidang DK PBB sebelum resolusi 1860 dikeluarkan ," kata SBY.

"Maksud saya, karena DK PBB resolusinya tidak bisa menghentikan maka biarlah dunia mendengar suara bangsa-bangsa sedunia yang bisa disuarakan dalam Sidang Darurat Majelis Umum, bagaimana kehendak dunia. Kalau DK PBB beranggotan hanya 15 anggota, 5 negara anggota tetap dan 10 negara anggota tidak tetap, sayang sekali Indonesia sudah berakhir sebagai anggota DK PBB tahun 2008 yang lalu, meskipun kita masih diberi kesempatan untuk menyuarakan posisi Indonesia. Diplomasi akan terus kita lakukan dengan tujuan segera dipulihkan keamana dan ketertiban. Bukan itu saja. Sejak awal kita telah mengirimkan obat-obatan, tim medis, makanan, serta uang tunai," tambahnya.

"Saya terus berkomunikasi dengan para pemimpin di Timur Tengah. Saya panggil Dubes Palestina, saya katakan, yang diperlukan saudara kita di Palestina sekarang ini bukan tambahan senjata, bom atau roket. Yang mereka butuhkan adalah obat-obatan, makanan, alat kesehatan, listrik. Jadi kesetiakawanan dan jihad kita, mari kita salurkan berupa apa yang menjadi kebutuhan mereka untuk bisa hidup," ujar SBY