Berita Utama

SBY di Surabaya:

"Jangan Persulit Masalah yang Sederhana"

Presiden SBY menyampaikan sambutan pada pembukaan Kongres ke XX Ikatan Notaris  Indonesia,  di Hotel J.W. Marriott, Surabaya, Rabu (28/1) pagi.  (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menyampaikan sambutan pada pembukaan Kongres ke XX Ikatan Notaris Indonesia, di Hotel J.W. Marriott, Surabaya, Rabu (28/1) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Surabaya: Menjadi abdi berarti harus memberikan pelayanan yang terbaik. Jangan malah sebaliknya, memperuslit masalah yang sederhana. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal ini dalam sambutan pembukaan Kongres XX Ikatan Notaris Indonesia (INI) di Royal Ballroom, Hotel J.W. Marriott, Surabaya, Rabu (28/1) pagi.

“Jangan masalah yang sederhana dibikin sulit. Masalah yang selesai cepat dibikin lambat. Urusan yang mestinya murah, dibikin mahal. Pelayan sejati adalah yang memberikan mampu pelayanan fast, cheap, easy, dan bisa dipertanggujawabkan semuanya," ujar Presiden SBY.

Oleh karena itu, Presiden mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan reformasi diri agar menjadi pelayan-pelayan yang mulia di masa depan, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan bangsa di segala bidang.

Agar bangsa dapat tumbuh dan berkembang menjadi negara yang maju, bermartabat dan sejahtera di abad ke 21, menurut Presiden SBY, ada tiga pilar yang harus dipenuhi, yakni kemandirian, daya saing, dan peradaban bangsa. "Dengan tiga pilar itu, kita harus bersatu, melangkah bersama dan bekerja lebih keras lagi," Presiden menegaskan.

Presiden SBY yakin Indonesia akan menjadi major economic country. "Karena potensi kita besar, sumber daya besar, termasuk sumber daya alam. Sehingga kalau semuanya dikelola dengan baik, saya yakin, dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Indonesia aka menjadi negara ekonomi besar. Tidak lama lagi,. insya Allah 10 hingga 20 tahun lagi menjadi seperti itu," kata SBY.

Mendampingi Presiden dalam acara ini, antara lain, Menkominfo M. Nuh, Menhuk HAM Andi Mattalatta, Mensesneg Hatta Rajasa, Seskab Sudi SIlalahi serta kedua Jubir Presiden, Andi A. Mallarangeng dan DIno Patti Djalal. (mit)