Berita Utama

Agar Pers Bisa Memberitakan dari A Sampai Z

Peserta Rapim TNI dan Rakor Polri menerima pengarahan dari Presiden SBY di Istana Negara, hari Kamis (29/1) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Peserta Rapim TNI dan Rakor Polri menerima pengarahan dari Presiden SBY di Istana Negara, hari Kamis (29/1) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Kamis (29/1) pagi memberi pembekalan kepada peserta Rapim TNI dan Rakor Polri di Istana Negara. Mengapa pembekalan dilakukan di Istana Negara, bukan di Mabes TNI atau Mabes Polri? "Jaman sekarang ini, orang mudah berburuk sangka. Ada apa Presiden SBY datang ke Cilangkap untuk memberikan pengarahan tertutup tanpa wartawan kepada jajaran TNI atau Polri? Jangan-jangan diminta untuk memenangkan atau memilih dalam Pemilu 2009?," kata SBY memberi alasan, mengapa pembekalan dilakukan di Istana Negara.

SBY memilih Istana Negara sebagai tempat yang tepat untuk diadakan pembekalan, agar seluruh pers dapat meliput kegiatan Presiden. "Silahkan meliput semuanya, dari A sampai Z, apa yang Presiden katakan. Ini merupakan bagian dari transparansi dan akuntabilitas saya sebagai pejabat negara. Pemberitaan pers yang obyektif dan akurat sangat penting karena dapat menghidupkan demokrasi yang tumbuh di negeri ini," lanjutnya.

Presiden mengingatkan sekali lagi kepada pers, agar terus menyampaikan berita yang obyektif dan akurat. SBY kemudian menceritakan kejadian dua hari lalu, tepatnya hari Selasa (27/1), ketika berkunjung ke Universitas Brawijaya, Malang untuk menyampaikan orasi ilmiahnya. "Dalam perjalanan saya dari Malang ke Surabaya, sore harinya banyak yang menanyakan kepada saya, apakah saya dihadang oleh pengunjuk rasa sepanjang perjalanan ke Universitas Brawijaya. Orang-orang tersebut ingin mengkonfirmasi mengenai adanya demonstrasi setelah mendengar berita dari berbagai media," kata SBY.

"Memang ada anggota dari Badan Eksekutif Mahasiswa yang bertemu dengan staf khusus untuk berdiskusi ketika saya memberikan orasi ilmiah. Namun, setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata demonstrasi yang dimaksud adalah demonstrasi mengenai BHP yang dilakukan oleh 30 orang di tempat yang jauh dari lokasi orasi ilmiah. Pemberitaan yang tidak tepat itu menimbulkan image yang lain. Pemberitaan semacam ini sering terjadi apabila saya melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah." Oleh karena itu, Presiden SBY menekankan sekali lagi pentingnya pemberitaan yang obyektif dan akurat, kepada para insan pers Indonesia.(mit)