Berita Utama
Rabu, 4 Februari 2009, 16:00:24 WIB
Mendadak Kunjungi Bulog
Presiden Pastikan Kesiapan Bulog Hadapi 2009
Presiden SBY memberi keterangan pers di Kantor Perum Bulog, Jakarta, hari Rabu (4/2) siang. (foto: cahyo/presidensby.info)
"Saudara mengetahui bahwa tahun 2009 adalah tahun yang tidak mudah bagi perekonomian kita, sebagaimana tahun yang berat bagi perekonomian dunia. Dari 7 prioritas yang saya tetapkan dalam bidang perekonomian tahun ini, satu diantaranya adalah menjaga kecukupan pangan dan energi. Bicara kecukupan pangan, kita bicara bahan pangan pokok yaitu beras. Oleh karena itu pemerintah harus yakin bahwa tahun ini kita memiliki kecukupan pangan, pilar dari ketahanan pangan" kata SBY.
Bicara kecukupan pangan, lanjut SBY, sederhananya yang ada di sawah-sawah, di ladang-ladang pertanian diperkirakan cukup memenuhi konsumsi dalam negeri. "Pangan yang sudah ada di pasar juga bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada hukum penawaran dan permintaan, serta kemudian sebagai stok pengaman maka stok beras nasional, termasuk cadangan beras pemerintah juga harus cukup dan tersedia," ujarnya. "Itulah yang kita kategorikan sebagai kecukupan pangan sehingga kunjungan saya kali ini untuk memastikan bahwa yang ditangani Perum Bulog adalah cukup untuk menjamin kecukupan pangan tahun 2009 ini," jelas SBY.
Presiden SBY menilai kinerja Bulog tahun 2008 yang lalu adalah baik. Ini pertama ditinjau dari stock yang dimiliki berjumlah 3,2 juta ton, stok yang tinggi dalam 10 tahun terakhir. "Saya tahu bahwa tahun ini ingin meningkatkan stok itu menjadi 3,8 juta ton. Dan akan lebih aman kalau sampai pada tingkat itu. Cadangan beras pemerintah sendiri tadi dilaporkan sekitar 300 ribu ton. Raskin yang didistribusikan tiap bulannya berjumlah sekitar 300 ribu ton dengan titik distribusi 50 ribu. Jumlah desa seingat saya berjumlah 80 ribu, berarti tiap tiga desa ada 2 titik distribusi. Tentu jumlah yang cukup memadai sepanjang dipastikan disatu sisi efisien, di sisi lain harus bisa melayani distribusi raskin itu," SBY menegaskan.
Untuk Balance sheet, Presiden SBY melihat di tahun 2008 sudah mulai biru. "Tadi tercatat profit bernilai lebih dari Rp. 80 milyar, yang sebelumnya tidak berada pada posisi seperti itu. Yang tidak kalah pentingnya, salah satu peran Bulog yang mengemuka di tahun lalu, disamping usaha-usaha yang lain, disamping produksi pangan kita yang meningkat dibanding tahun sebelumnya adalah di Indonesia terjadi harga beras yang stabil di kala harga beras dunia tidak stabil. Kita mampu mengisolasi dan menjaga stabilitas itu dengan harga rata-rata setahun dibawah harga beras dunia. Tentu ini catatan tersendiri dan saya memberikan apresiasi dalam peran Bulog dalam ikut menstabilkan harga beras di negeri kita," ujar SBY.
Isu-isu penting yang berkaitan dengan peran dan tugas Bulog tahun ini dan tahun-tahun mendatang pertama adalah berkaitan dengan ekspor beras. "Saya tahu ada wacana, pemikiran di kalangan masyarakat tentang apakah sudah saatnya kita mengekspor beras, kalau mengekspor beras berapa banyak, beras jenis apa, lantas bagaimana kepentingan untuk mencukupi kebutuhan beras sendiri dan sebagainya. Bulog tadi telah merencanakan setelah mencukupi kebutuhan dalam negeri maka apabila ada peluang untuk mengekspor pada jenis tertentu itu akan dilakukan," kata SBY.
"Arahan saya tadi, rencanakan dan persiapan matang-matang tetapi teruslah mengatisipasi, melihat perkembangan harga beras di dunia termasuk perkembangan harga dan supply beras di dalam negeri. Manakala kita sudah bisa mencukupi kebutuhan sendiri dan ada peluang untuk mengekspor beras dalam jumlah tertentu yang mendatangkan keuntungan ekonomi, tentu hal itu bisa dilakukan," tegasnya.
Yang kedua, Presiden SBY berpesan agar distribusi besar terutama penyaluran raskin betul-betul mengantisipasi perkembangan iklim dan cuaca. "Jangan ketika terjadi cuaca yang buruk, baru kita bingung bagaimana menyalurkan raskin itu. Baik di pusat maupun daerah melakukan langkah-langkah antisipasi yang baik. Bagi saya ukurannya apakah cukup mengantisipasi, menyiapkan segalanya apabila rakyat kita yang perlu mendapatkan pelayanan itu, terlambat menerimanya," SBY menerangkan.
Yang ketiga adalah menyangkut aset Bulog yang tersebar di seluruh Indonesia. Sudah saatnya Bulog menata kembali aset-asetnya. "Tidak boleh menjadi beban, tetapi harus menjadi aset yang mendatangkan sumber-sumber pendapatan yang baik. Tentu penataannya harus transparant dan akuntabel, kemudian arahkan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih baik. Saya dukung upaya itu dan segaris dengan upaya pemerintah untuk menertibkan aset nasional, barang-barang milik negara dan pemerintah yang barangkali puluhan tahun banyak yang belum terkelola dengan baik. Meskipun mentertibkan aset pemerintah itu memerlukan waktu yang lama, harus kita mulai dan pemerintah sudah memulainya sejak dua tahun yang lalu," ujar SBY.
Keempat, bagaimana peran Bulog dalam stabilisasi harga. "Tidak mudah untuk menstabilkan harga karena ada hukum-hukum pasar, meskipun kita tidak menganut penuh fundamentalisme pasar seperti itu dan selalu ada peran pemerintah. Pemerintah ini akan terus kita jalankan sebaik-baiknya agar adil ekonomi itu, agar yang penghasilannya rendah tidak diabaikan maka kita memikirkan bagaimana harga-harga barang dan jasa kita stabil. Contohnya beras, Bulog mampu ikut serta dalam stabilisasi harga beras. Mengapa harga minyak goreng susah sekali stabil, meskipun Alhamdulillah minggu-minggu terakhir ini mengalami penurunan sehingga baik bagi rumah tangga kita," lanjutnya. "Oleh karena itulah kedepan saya persilahkan Bulog memikirkan agar ikut serta pula melakukan stabilisasi harga diluar beras. Memang baik bagi perekonomian kita dan baik bagi upaya untuk stabilisasi harga atau untuk menjaga inflasi pada tingkat yang baik," terang SBY.
Isu kelima yang juga sekaligus perintah Presiden SBY adalah agar Bulog betul-betul membangun tata perusahaan yang baik. "Saya memberikan apresiasi atas kinerja Bulog. Ini adalah tahun yang bersejarah dan Bulog bisa untuk mengibarkan bendera sebagai contoh dari perusahaan yang baik. Hilangkan sisa-sisa citra masa lalu yang tidak baik. Dulu katanya Bulog sumber penyimpangan. Sejarah mampu mengubahnya tahun lalu, mestinya bisa dipertahankan tahun-tahun mendatang sehingga Bulog tampil sebagai BUMN yang responsif, transparan, akuntabel dan berkemampuan dalam melaksanakan tugasnya," SBY menambahkan.
Turut mendampingi Presiden SBY antara lain, Mentan Anton Apriyantono, Mendag Mari E. Pangestu, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri BUMN Sofyan Djalil dan Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng. (osa)



