Berita Utama

Peringatan HPN dan HUT Ke-63 PWI

Presiden Ajak Pers Utamakan Kebenaran Besar

Presiden  SBY menyampaikan sambutan pada peringatan Hari Pers Nasional tahun 2009, di Senayan, Jakarta, Senin  (9/2) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menyampaikan sambutan pada peringatan Hari Pers Nasional tahun 2009, di Senayan, Jakarta, Senin (9/2) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, wartawan yang melaporkan suatu peristiwa dengan bahasa yang provokatif sebagai kebenaran kecil. Sedangkan wartawan yang melaporkan peristiwa apa adanya dan menunda sebagian fakta untuk dilaporkan pada waktu lain yang lebih tepat, dinilai sebagai kebenaran besar.

"Mana yang akan kita pilih?" tanya Presiden kepada insan pers pada Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan sekaligus Hari Ulang Tahun ke-63 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (9/2) malam.

"Misalnya ada kerusuhan pertikaian horisontal, korban berjatuhan. Masih dalam suasana panas, ada insan pers di situ. Ada dilema, apakah meliput utuh apa adanya, tanpa kontrol, apalagi dengan bahasa provokatif karena dia ingat rakyat ingin tahu. Apa yang terjadi kalau itu yang dipilih, itu adalah kebenaran kecil,” kata Presiden SBY.

Tapi insan pers yang sama memberitakan memang ada perselisihan, ada korban dan menuturkan peristiwanya. Tapi ada batas yang dia tidak bisa ungkapkan agar tidak terjadi hal yang lebih buruk. “Menunda pemberitaan, mencari waktu yang tepat, memilih bahasa yang tidak saling memprovokasi, itu adalah kebenaran yang besar," SBY menjelaskan.

Menjelang pemilu mendatang, Presiden mengajak insan pers dan seluruh masyarakat untuk lebih mengutamakan kebenaran besar, yakni keberlanjutan kepemimpinan serta pembangunan negara dan bangsa Indonesia. "Terpilihnya anggota DPR dan DPD, serta terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden pada pemilu mendatang lebih merupakan kebenaran kecil," Presiden SBY menambahkan.

Terpilihnya anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden hanyalah merupakan sasaran antara, menuju sasaran pokok, yakni melanjutkan pembangunan Indonesia menuju kehidupan yang lebih baik. "Jangan sampai kita fokus ke sasaran antara dan melupakan sasaran pokok," SBY mengingatkan.

Dalam sambutan akhirnya, SBY meminta masyarakat tidak perlu mendikotomikan right or wrong is my country atau wrong is wrong dan right is right. Menurut SBY, benar atau salah negara kita, mari kita bikin negara kita benar dan jangan biarkan negara kita berbuat salah. "Dalam artikel saya tahun 1999 lalu di majalah Tajuk, saya menulis, karena benar atau salah adalah negara saya, maka bagaimana saya berusaha agar negara saya bertindak benar," kata Presiden.

Dalam kesempatan itu, panitia HPN menganugerahkan Medali Emas Kemerdekaan Pers kepada Presiden SBY dan TNI sebagai pejabat publik dan institusi negara yang menghormati kemerdekaan pers. Presiden SBY dan TNI dinilai paling banyak dan sering memanfaatkan hak jawab dalam menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan kegiatan jurnalistik. "Medali Emas Kemerdekaan Pers ini merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan panitia HPN," ujar Marah Sakti Siregar, salah seorang anggota Dewan Juri.

Panitia juga menganugerahkan penghargaan Spirit Jurnalisme kepada Pimpinan Jawa Pos, Dahlan Iskan. Sementara penghargaan tertinggi bagi wartawan, yakni Penghargaan Adinegoro, diberikan kepada Moh. Nur, yang tulisannya dimuat di Harian Batam Pos, 27 Desember 2008 lalu.

Sebelumnya, dalam sambutannya, Ketua PWI Margiono menyatakan sikap PWI atas keterlibatan tiga orang wartawan anggota PWI pada kasus kerusuhan anarkhis di Medan beberapa hari lalu. "PWI menyatakan, tindakan ketiga wartawan tersebut di luar tugas kewartawanan dan PWI akan memberikan sanksi bila ketiganya terbukti melanggar kode etik jurnalistik," Margiono menegaskan.

Peringatan HPN dan HUT ke-63 PWI ini mengambil tema "Kemerdekaan Pers Untuk dan Dari Rakyat". (win)